Pemerintah tengah mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pascabencana, dengan target penyelesaian kegiatan sebelum 31 Desember 2026. Di Pidie Jaya, sawah yang terdampak banjir mulai dibersihkan dan ditanami kembali dengan padi, jagung, serta bawang, sementara lahan yang rusak parah masih dalam penanganan alat berat. Di Aceh Utara, 520 kelompok peternak yang terkena dampak banjir telah menerima obat hewan, disinfektan, dan tambahan pakan untuk menjaga kesehatan ternak dan keberlanjutan usaha mereka.
Normalisasi Ekonomi Warga Aceh
Denut perekonomian masyarakat yang terdampak banjir di Aceh semakin mendekati kondisi normal. Di Kabupaten Pidie Jaya, sawah yang sebelumnya tertimbun lumpur kini telah dibersihkan dan mulai ditanami kembali. Sementara itu, di Kabupaten Aceh Utara, bantuan berupa obat hewan, disinfektan, dan tambahan pakan disalurkan kepada peternak untuk mendorong pemulihan ekonomi mereka setelah bencana.
Inisiatif ini merupakan bagian dari Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) yang disusun oleh pemerintah untuk menangani bencana di Aceh. Renduk PRRP menekankan pentingnya pemulihan ekonomi dan mata pencaharian sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabencana. Selain memperbaiki kerusakan fisik, pemulihan juga bertujuan untuk mengembalikan fungsi aset produktif masyarakat, menjaga ketahanan pangan, dan memulihkan sumber pendapatan keluarga.
Penanganan Bencana dan Bantuan untuk Peternak
Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian, yang juga menjabat sebagai Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, mendorong kementerian dan lembaga untuk mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Berbagai kegiatan yang direncanakan tahun ini ditargetkan untuk selesai sebelum akhir tahun 2026.
Tito menyampaikan bahwa penanganan bencana telah melewati tahap tanggap darurat yang berfokus pada evakuasi, penanganan korban, dan penyelamatan nyawa, kemudian berlanjut ke masa transisi darurat. Saat tanggap darurat, Presiden Prabowo Subianto telah mengerahkan berbagai kekuatan nasional, termasuk TNI, Polri, BNPB, Basarnas, dan pemerintah daerah. “Pada saat tanggap darurat, Bapak Presiden sudah memberikan anggaran awal untuk belanja tidak terduga tambahan sebanyak Rp268 miliar,” ujarnya.
Di Pidie Jaya, proses pembersihan sawah yang rusak parah akibat banjir terus berlangsung. Beberapa lahan yang mengalami kerusakan ringan hingga sedang mulai pulih dan kembali dimanfaatkan untuk menanam padi, jagung, dan bawang. Di Kecamatan Meurah Dua, sawah di Desa Lueng Bimba yang sebelumnya tertimbun lumpur kini telah ditanami padi kembali. Sementara itu, di Desa Beuringen, alat berat masih digunakan untuk membersihkan lahan yang mengalami kerusakan berat dan ditumbuhi semak belukar.
Pemulihan juga terlihat di Kecamatan Meureudu, di mana sawah di Desa Blang Awe mulai dimanfaatkan kembali untuk menanam rendeng, sementara warga Desa Meunasah Lueng menanam jagung. Beberapa tanaman bahkan telah tumbuh hingga mencapai sekitar satu meter, sedangkan lahan lainnya baru saja selesai ditanami.
Pemulihan sektor peternakan di Aceh Utara juga berjalan. Sebanyak 520 kelompok peternak yang terdampak banjir menerima bantuan berupa obat hewan, disinfektan, dan tambahan pakan untuk menjaga kesehatan ternak mereka. Mukhlisin, seorang peternak dari Kecamatan Meurah Mulia, mengungkapkan bahwa banyak ternaknya terendam saat banjir melanda pada 26 November 2025. Sebagian ternak mengalami sakit dan memerlukan pengobatan meskipun berhasil diselamatkan.
Bantuan tersebut disalurkan melalui Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disbunnakeswan) Aceh Utara. Beberapa kelompok mengambil bantuan di kantor dinas di Lhokseumawe, sementara penerima lainnya mendapatkannya melalui penyuluh peternakan di kecamatan. Kepala Disbunnakeswan Aceh Utara, Erwandi, menjelaskan bahwa bantuan berasal dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, dalam bentuk barang.
Peternak yang belum menerima bantuan akan diusulkan untuk penyaluran pada tahap berikutnya. Bantuan tersebut mencakup Pro B Plek sebanyak 50.890 bolus, Progard 52.040 tablet, Albenpros 49.000 bolus, Aspipros 94.500 bolus, serta premix atau bahan tambahan pakan sebanyak 45.900 kilogram atau 45,9 ton. Menurut Erwandi, Pro B Plek adalah suplemen vitamin B kompleks untuk membantu menjaga kondisi dan metabolisme ternak. Albenpros digunakan untuk mengendalikan infeksi cacing, sedangkan Aspipros berfungsi sebagai pereda nyeri, penurun demam, dan antiradang sesuai indikasi serta petunjuk dokter hewan.
Adapun Progard adalah disinfektan dan antiseptik untuk sanitasi lingkungan maupun peralatan, bukan untuk mengobati penyakit ternak secara langsung. Pemulihan di sektor pertanian dan peternakan diharapkan dapat membantu masyarakat Aceh untuk kembali menjalankan aktivitas produktif setelah bencana. Melalui pemulihan lahan, perawatan ternak, serta pendampingan yang berkelanjutan, diharapkan sumber pendapatan keluarga dan ketahanan pangan di wilayah yang terdampak dapat pulih secara bertahap.