Finlandia telah lama diakui sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik dan sering dijadikan acuan oleh banyak negara di dunia. Namun, hasil dari Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menunjukkan situasi yang lebih rumit. Meskipun capaian siswa Finlandia masih tergolong tinggi, terdapat tren penurunan skor yang terlihat dalam dua dekade terakhir.
Sebanyak 7.668 siswa dari 240 sekolah di Finlandia berpartisipasi dalam asesmen PISA 2025. Sampel ini mewakili sekitar 59.900 pelajar berusia 15 tahun, yang mencakup sekitar 93 persen dari populasi anak usia 15 tahun di negara tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa Finlandia masih mencatat skor di atas rata-rata negara-negara anggota Organization of Economic Co-operation and Development (OECD) dalam tiga bidang yang diuji, yaitu sains, matematika, dan membaca.
Tren Penurunan Skor Pendidikan
Namun, jika dilihat dalam jangka waktu yang lebih panjang, grafik PISA menunjukkan penurunan skor yang cukup signifikan. Hasil capaian pelajar berusia 15 tahun di Finlandia menunjukkan penurunan jangka panjang dibandingkan dengan periode puncak performa mereka pada tahun 2006. Dalam PISA 2025, Finlandia meraih 504 poin untuk sains, 469 poin untuk matematika, dan 474 poin untuk membaca. Sebagai perbandingan, rata-rata OECD masing-masing berada di 482 poin untuk sains, 463 poin untuk matematika, dan 461 poin untuk membaca.
Dengan demikian, Finlandia masih unggul 22 poin dalam sains, 6 poin dalam matematika, dan 13 poin dalam membaca dibandingkan dengan rata-rata OECD. Namun, keunggulan tersebut tidak lagi sebesar dua dekade lalu.
Detail Penurunan Skor di Setiap Bidang
Sains menjadi fokus utama dalam PISA 2025. Melihat perjalanan skor Finlandia sejak sains pertama kali dinilai, penurunan terlihat konsisten. Pada tahun 2006, Finlandia mencatat skor sains 563 poin, yang kemudian turun menjadi 554 pada 2009, 545 pada 2012, 531 pada 2015, dan 522 pada 2018. Penurunan berlanjut pada 2022 dengan skor 511 poin, sebelum kembali turun menjadi 504 poin pada PISA 2025. Ini berarti dalam 19 tahun, skor sains Finlandia berkurang 59 poin dari posisi 2006.
Perubahan paling signifikan terlihat dalam bidang matematika. Finlandia memperoleh 544 poin pada tahun 2003, naik menjadi 548 poin pada tahun 2006, namun setelah itu, skor matematika mengalami penurunan. Pada 2009, skor berada di 541 poin, kemudian turun menjadi 519 pada 2012, 511 pada 2015, dan 507 pada 2018. Penurunan semakin tajam, dengan skor matematika turun menjadi 484 poin pada 2022 dan kembali merosot menjadi 469 poin pada 2025. Jika dibandingkan dengan capaian tertinggi 548 poin pada tahun 2006, Finlandia kehilangan 79 poin dalam 19 tahun.
Demikian pula, kemampuan membaca menunjukkan pola yang serupa. Dalam PISA 2000, Finlandia mencatat skor membaca 546 poin, sedikit turun menjadi 543 pada 2003, sebelum kembali naik menjadi 547 poin pada 2006. Namun, skor membaca turun menjadi 536 pada 2009 dan 524 pada 2012. Pada 2015, skor naik sedikit menjadi 526 poin, tetapi kembali merosot menjadi 520 pada 2018, 490 pada 2022, dan akhirnya 474 poin pada 2025. Jika dibandingkan dengan titik tertinggi 547 poin pada 2006, skor membaca Finlandia pada 2025 turun hingga 73 poin.
Tanggapan dari Menteri Pendidikan Finlandia
Menteri Pendidikan Finlandia, Anders Adlercreutz, mengakui bahwa capaian siswa Finlandia terus mengalami penurunan. Meskipun demikian, performa Finlandia dalam PISA 2025 masih berada di atas rata-rata negara OECD lainnya. "Meskipun hasil belajar menurun dan kesenjangan capaian antarsiswa melebar, Finlandia tetap menunjukkan performa yang baik menurut standar internasional," ujarnya.
Adlercreutz menambahkan bahwa pemerintah Finlandia telah melaksanakan program komprehensif untuk memperkuat dan mengembangkan pendidikan dasar. Namun, dampak dari kebijakan pendidikan ini tidak bisa terlihat secara instan. "Saya yakin langkah-langkah tersebut akan memperkuat pembelajaran serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa. Namun, dampaknya terhadap hasil belajar membutuhkan waktu untuk terlihat," katanya.
Dia juga menekankan pentingnya ketekunan dan tekad dalam belajar, serta hak setiap anak untuk mendapatkan kesempatan belajar yang baik demi masa depan mereka.