Fakta Nasional

Analisis Pakar Terhadap Serangan Houthi ke Arab Saudi dan Peran yang Dapat Diambil Indonesia

Sejumlah pakar menjelaskan faktor-faktor yang memicu serangan kelompok Houthi ke Arab Saudi, serta mendorong Indonesia untuk berperan aktif dalam meredakan ketegangan di kawasan tersebut.

P
Padma Dewi
14 October 2026
13 pembaca
Foto: Social Media via REUTERS/Social Media
Foto: Social Media via REUTERS/Social Media

Jakarta - Beberapa ahli dalam bidang hubungan internasional menguraikan berbagai faktor yang menjadi latar belakang serangan kelompok Houthi terhadap Riyadh, Arab Saudi. Salah satu penyebab utama adalah konflik internal yang terjadi di Yaman serta dukungan Arab Saudi terhadap pemerintahan Yaman.

Teuku Rezasyah, seorang pakar hubungan internasional dari President University, menyatakan bahwa Houthi menganggap Saudi sebagai pihak yang ikut campur dalam urusan internal Yaman. Houthi juga mengkritik koalisi yang dibentuk oleh Saudi bersama negara-negara Teluk, yang melakukan serangan terhadap wilayah yang dikuasai oleh mereka. "Dalam pandangan Houthi, Saudi mendukung Arab Spring tahun 2011 silam, yang menjatuhkan Presiden Ali Abdullah Saleh, dan mendukung pemerintahan Presiden Mansour Hadi yang tak mampu mengatasi masalah pengangguran dan ketimpangan ekonomi," jelas Rezasyah kepada wartawan.

Persepsi Houthi Terhadap Saudi

Menurut Rezasyah, Houthi merupakan kelompok nasionalis yang menolak intervensi asing di Yaman. Mereka juga menilai pemerintahan Presiden Mansour Hadi tidak mampu menyelesaikan permasalahan yang ada di negara tersebut. Rezasyah menekankan bahwa Saudi hingga saat ini belum berhasil mendukung pembangunan sipil yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Yaman, seperti pengentasan kemiskinan dan penyediaan fasilitas umum. Hal ini terjadi di tengah krisis berkepanjangan yang telah berlangsung selama sekitar 15 tahun.

Di sisi lain, Hikmahanto Juwana, seorang guru besar hukum internasional dari Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa serangan Houthi juga berkaitan dengan keyakinan mereka bahwa Saudi telah lebih dulu menyerang wilayah mereka. "Houthi melakukan penyerangan karena menurut Houthi Arab Saudi yang terlebih dahulu menyerang. Di samping Arab Saudi berpihak pada pemerintahan Yaman, sementara Houthi didukung oleh Iran," ungkap Hikmahanto.

Rekomendasi untuk Indonesia

Hikmahanto menilai bahwa konflik ini terkadang dipandang sebagai persaingan antara kelompok, namun juga terkait dengan pertarungan kepentingan geopolitik di kawasan. Ia menyoroti posisi Arab Saudi yang mendukung Amerika Serikat, sementara Houthi berada di pihak yang mendukung Iran. Ketegangan ini semakin rumit di tengah konflik antara Iran dan AS.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Rezasyah mendorong Indonesia untuk mengambil peran melalui forum multilateral. Ia menyarankan agar Indonesia aktif dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Gerakan Non-Blok (GNB), serta kerja sama dengan negara-negara dunia bagian selatan, baik di dalam maupun di luar Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sementara itu, Hikmahanto memberikan beberapa rekomendasi bagi pemerintah Indonesia. Pertama, Indonesia perlu meminta semua pihak untuk melakukan deeskalasi atau menurunkan intensitas serangan, yang dianggap penting untuk membuka ruang bagi penyelesaian konflik secara diplomatik. Kedua, Indonesia dapat mendorong penyelenggaraan pertemuan darurat OKI untuk membahas situasi yang ada, yang bisa dilakukan secara daring jika diperlukan. Ketiga, Indonesia dapat menawarkan diri sebagai mediator bagi pihak-pihak yang terlibat agar konflik tidak berlanjut. "Langkah diplomasi tersebut diharapkan dapat mendorong penghentian serangan dan mencegah konflik regional semakin meluas," pungkasnya.

Artikel Terkait