Fakta Nasional

BEM UI Gelar Aksi Tuntut Penanganan Karhutla di Kalteng, Bukan di Jakarta

Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menggelar demonstrasi di Kantor Gubernur Kalimantan Tengah pada 19 Oktober 2026, bukan di Jakarta seperti yang beredar di media sosial.

F
Fidzu Ardaf
19 October 2026
13 pembaca
Mobil komando yang disewa BEM UI mundur dan menandai aksi demo Selasa, 18 Agustus 2026 berakhir. (IDN Times/Santi Dewi)
Mobil komando yang disewa BEM UI mundur dan menandai aksi demo Selasa, 18 Agustus 2026 berakhir. (IDN Times/Santi Dewi)

Kabar mengenai aksi demonstrasi yang akan dilakukan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) di Gedung DPR dan Bundaran Hotel Indonesia pada 19 Oktober 2026 tidak ditemukan di akun resmi media sosial BEM UI. Sebaliknya, BEM UI justru melaksanakan aksi bersama pemuda dan masyarakat sipil di Kalimantan Tengah, terkait masalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap.

Informasi tentang aksi di Jakarta beredar melalui sebuah poster di media sosial yang mencantumkan akun Instagram resmi BEM UI, @BemUI_official. Namun, setelah ditelusuri, tidak ada postingan yang mendukung informasi tersebut.

Aksi di Kalimantan Tengah

Ketua BEM UI, Yatalathof Himawan, menjelaskan bahwa mereka bersama pemuda dan masyarakat sipil Kalteng melakukan demonstrasi di Kantor Gubernur Kalimantan Tengah pada hari yang sama. Aksi ini bertujuan untuk mengangkat isu kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap yang dianggap telah mengancam keselamatan masyarakat.

Aksi yang dinamakan Aliansi Masyarakat Kalimantan Tengah Melawan Jilid III ini mengusung tema "Peringatan Darurat Karhutla dan Kabut Asap". Sebelum menuju ke Kantor Gubernur Kalteng, massa berkumpul di Taman TVRI pada pukul 12.00 WIB.

Tuntutan Massa Aksi

Yatalathof menyatakan bahwa BEM UI bergerak bersama masyarakat Kalteng karena situasi yang dinilai semakin memburuk. "Masyarakat sekarang sedang kronis dikarenakan krisis udara air bersih di sebabkan karhutla, krisis air bersih, kelangkaan BBM, dan seringnya matinya lampu. Jadi sudah beraktivitas berbahaya, dalam mencari penghidupan pun juga susah," ungkapnya.

Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan sembilan tuntutan kepada pemerintah, menyoroti bahwa karhutla dan kabut asap yang berkepanjangan telah menjadi ancaman serius bagi keselamatan masyarakat. Mereka menilai kualitas udara semakin tercemar, kesehatan masyarakat terancam, dan kehidupan warga terus terdampak akibat situasi ini.

Artikel Terkait