Fakta Ekonomi

BGN Luncurkan Program Prasmanan Makan Bergizi Gratis di 60 SPPG

Badan Gizi Nasional (BGN) memperkenalkan konsep prasmanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilaksanakan di lebih dari 60 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Indonesia.

S
Stevani Nila Wardana
05 October 2026
24 pembaca
Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Rifki Hasan
Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Rifki Hasan

Badak Gizi Nasional (BGN) telah mulai menerapkan konsep prasmanan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menyajikan makanan langsung di dalam kelas. Inisiatif ini sedang diuji coba di lebih dari 60 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Inspirasi dari Praktik Internasional

Kepala BGN, Sudaryono, menjelaskan bahwa konsep ini terinspirasi dari metode penyajian makanan yang digunakan di Jepang dan negara-negara maju lainnya yang menerapkan sistem serupa. Dalam model ini, makanan yang dimasak di SPPG atau dapur pusat akan diangkut ke sekolah dan disajikan dalam keadaan hangat kepada para siswa. "Kita meniru di Jepang juga sama. Di negara lain yang lebih maju itu juga tidak semua dapur berada di sekolah," ungkap Sudaryono saat ditemui di Jakarta.

Meningkatkan Kualitas dan Kesegaran Makanan

Penyesuaian ini bertujuan untuk memaksimalkan penggunaan fasilitas dapur terpusat yang telah ada. Sudaryono menambahkan bahwa penerapan sistem prasmanan memungkinkan makanan disajikan langsung di kelas setelah tiba dari dapur. Dengan cara ini, jeda waktu antara proses memasak dan konsumsi dapat diminimalkan, sehingga makanan yang diterima siswa lebih segar. "Jadi dimasak di central kitchen kemudian dibagi ke sekolah-sekolahnya, lalu disajikan hangat-hangat secara prasmanan di kelas," jelasnya. Sistem ini dinilai efisien dalam menjaga kualitas gizi serta kehangatan hidangan.

Saat ini, BGN masih melakukan uji coba model prasmanan di beberapa wilayah, termasuk Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, dan Jayapura. Sudaryono menekankan pentingnya uji coba di berbagai lokasi untuk mengidentifikasi masalah yang mungkin timbul sebelum konsep ini diterapkan secara lebih luas. Selain menjaga kesegaran makanan, konsep prasmanan juga dianggap dapat mengurangi potensi pemborosan makanan. Berdasarkan laporan awal, hampir semua makanan dalam uji coba tersebut habis, karena siswa dapat mengambil porsi sesuai kebutuhan dan menambah jika masih tersedia.

Model ini juga berfungsi sebagai sarana edukasi bagi siswa. Dalam pelaksanaannya, siswa dilibatkan dalam proses penyajian makanan dengan sistem piket, termasuk menggunakan celemek dan sarung tangan saat melayani teman-teman serta guru mereka. Mengingat keterlibatan sekolah dan siswa, BGN menilai bahwa penerapan sistem prasmanan memerlukan pelatihan bagi pengelola dapur dan tenaga pendidik. BGN akan terus mengevaluasi pelaksanaan uji coba untuk menentukan pola yang paling tepat sebelum memperluas penerapannya.

Artikel Terkait