Fakta Nasional

BNPB Targetkan Penanganan Karhutla Segera Tuntas

Kepala BNPB, Kristomei Sianturi, menegaskan pentingnya penanganan kebakaran hutan dan lahan agar masyarakat tidak terus terdampak, disertai evaluasi untuk meningkatkan efektivitas.

F
Fidzu Ardaf
17 October 2026
16 pembaca
Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI, Mayjen TNI Kristomei Sianturi (Dok. Mabes TNI)
Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI, Mayjen TNI Kristomei Sianturi (Dok. Mabes TNI)

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kristomei Sianturi, menekankan bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) harus segera diselesaikan untuk mencegah dampak lebih lanjut kepada masyarakat. Ia juga menyatakan perlunya evaluasi terhadap penanganan yang telah dilakukan agar lebih efektif di masa mendatang.

Operasi Modifikasi Cuaca di Palembang

BNPB melaksanakan operasi modifikasi cuaca pada tanggal 15 hingga 16 Oktober 2026 di Palembang, dengan menyemai total 2,4 ton dry ice dalam tiga sorti untuk mengurangi asap yang mengganggu penerbangan. Setelah operasi tersebut, jarak pandang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II meningkat hingga mencapai 3.000 meter dan stabil. Namun, BNPB menilai bahwa efektivitas penggunaan dry ice masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Kristomei Sianturi menyatakan, “Targetnya as soon as possible, secepat mungkin. Jangan sampai rakyat terus terdampak,” saat memberikan keterangan di Istana Negara, yang dirilis dalam siaran pers BNPB pada Sabtu, 17 Oktober 2026.

Peningkatan Jarak Pandang

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa operasi ini merupakan respons terhadap asap karhutla yang mengganggu aktivitas penerbangan di bandara tersebut. “Asap akibat kebakaran hutan dan lahan masih mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Sumatra Selatan (Sumsel), beberapa hari terakhir,” ujarnya.

Berton menambahkan bahwa OMC dengan penyemaian dry ice dilakukan selama dua hari berturut-turut. Hasilnya, jarak pandang meningkat dari 1.000 meter pada pukul 13.00 WIB menjadi 3.000 meter pada pukul 20.30 WIB. Penyemaian dilakukan dalam tiga sorti dengan total waktu terbang selama 7 jam 3 menit.

Dalam proses penyemaian, Berton menjelaskan bahwa pada sorti pertama, pesawat BNPB menyemai 800 kg dry ice di sekitar bandara. “Secara teori, penyemaian dry ice pada lapisan atmosfer mengalami inversi atau kondisi di mana lapisan udara di atas lebih hangat daripada lapisan udara di bawahnya. Ini akan berpotensi mempengaruhi struktur lapisan tersebut sehingga mendorong terjadinya pelemahan lapisan udara,” jelasnya.

Dia berharap dengan melemahnya lapisan udara di atmosfer, dapat membantu mengurangi konsentrasi kabut asap di permukaan dan meningkatkan jarak pandang di bandara internasional tersebut. Meskipun demikian, Berton menekankan bahwa penggunaan OMC dengan dry ice ini perlu diteliti lebih lanjut untuk memastikan efektivitasnya.

“Langkah OMC dengan bahan dry ice ini perlu penelitian lebih lanjut mengenai efektivitas penggunaannya atau ada faktor lain yang menyebabkan jarak pandang yang semakin baik,” tutupnya.

Artikel Terkait