Bank Rakyat Indonesia (BRI) menegaskan bahwa mereka tidak akan melakukan revisi terhadap rencana bisnis bank (RBB) untuk tahun 2026, meskipun ketidakpastian global masih berlanjut. Perusahaan ini meyakini bahwa kinerja mereka hingga awal tahun tetap sejalan dengan target yang telah ditetapkan.
Wakil Direktur Utama BRI, Viviana Dyah Ayu, memproyeksikan pertumbuhan kredit berada di kisaran 7–9 persen secara tahunan. Ia menyatakan, “Kinerja BRI hingga Maret 2026 masih berada di jalur yang sesuai dengan rencana bisnis yang telah kami tetapkan,” dalam acara Taklimat Media kinerja kuartal I 2026.
Viviana menjelaskan bahwa fundamental ekonomi domestik yang relatif stabil menjadi dasar optimisme BRI. Konsumsi masyarakat dan aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dianggap sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi. Ia menambahkan, “Dengan kondisi saat ini, kami belum melihat kebutuhan untuk melakukan revisi terhadap rencana bisnis bank.”
Meski demikian, BRI tetap memantau perkembangan eksternal dan membuka kemungkinan penyesuaian jika diperlukan. “Kami akan tetap melihat situasi dan bersikap adaptif terhadap perkembangan kondisi eksternal,” ujarnya.
Dari sisi kinerja, BRI mencatat laba bersih konsolidasi sebesar Rp 15,5 triliun hingga kuartal I 2026, yang tumbuh 13,7 persen dibandingkan tahun lalu. Penyaluran kredit tercatat mencapai Rp 1.562 triliun, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 1.555 triliun. Kontribusi dana murah (current account saving account/CASA) mencapai Rp 1.058,6 triliun, dan total aset meningkat menjadi Rp 2.205 triliun per Maret 2026.