Fakta Nasional

Daryono: Mitigasi Karhutla Harus Tetap Berlanjut Meski Musim Hujan Tiba

Daryono menegaskan pentingnya melanjutkan upaya mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meskipun musim hujan sudah mulai datang, karena api di lahan gambut dapat tetap membara di bawah tanah.

F
Fidzu Ardaf
26 October 2026
41 pembaca
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Ibukota Nusantara, Senin (19/10/2026). (Dok. Polda Kaltim)
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Ibukota Nusantara, Senin (19/10/2026). (Dok. Polda Kaltim)

Musim hujan yang mulai tiba di Indonesia diharapkan dapat membantu mengurangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), namun Daryono, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) dan dosen di Magister Manajemen Bencana Universitas Indonesia, mengingatkan bahwa mitigasi tidak boleh berhenti. Hujan dapat membantu memadamkan api, tetapi di lahan gambut, api bisa tetap menyala di bawah permukaan tanah.

Pentingnya Pencegahan Berkelanjutan

Daryono menekankan bahwa dengan datangnya musim hujan, upaya mitigasi harus tetap dilanjutkan agar kebakaran tidak terulang pada musim kemarau berikutnya. “Datangnya musim hujan dapat membantu mengakhiri kebakaran, tetapi tidak boleh mengakhiri upaya mitigasi,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa penanganan karhutla seharusnya tidak hanya fokus pada pemadaman setelah api menyebar, tetapi juga harus mengedepankan langkah-langkah pencegahan sebelum kebakaran terjadi.

Langkah pencegahan yang dimaksud mencakup perlindungan ekosistem gambut, pengelolaan tata air, serta pengendalian sumber penyulutan api. Dengan prioritas pada pencegahan, diharapkan potensi karhutla dapat ditekan sebelum berkembang menjadi bencana yang lebih besar. “Karhutla boleh menjadi catatan sejarah, tetapi jangan terus menjadi bencana yang berulang,” tambahnya.

Pentingnya Kesiapsiagaan dan Peringatan Dini

Daryono juga menjelaskan bahwa penguatan sistem peringatan dini sangat penting untuk membantu mengantisipasi potensi karhutla sebelum kebakaran meluas. Kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah juga menjadi faktor kunci agar penanganan dapat dilakukan dengan tepat saat risiko kebakaran meningkat. Dengan persiapan yang baik, diharapkan masyarakat dan pemerintah dapat mengambil langkah antisipasi lebih awal, sehingga dampak kebakaran terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat dapat diminimalkan.

“Belajar dari kejadian, memperkuat pencegahan, dan membangun kesiapsiagaan adalah kunci agar risiko karhutla di masa depan semakin berkurang,” ungkap Daryono. Selain itu, berdasarkan informasi yang ada, Presiden Prabowo Subianto telah membentuk Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) sebagai langkah untuk mencegah terjadinya karhutla. Keputusan ini diambil dalam rapat terbatas bersama Menteri Kehutanan, yang berlangsung di Jakarta.

“Bapak Presiden sudah mengambil keputusan, akan mendirikan satu badan yang disebut sebagai Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional atau disingkat dengan BPGMN,” kata Menteri Kehutanan, Raja Juli, menjelaskan inisiatif tersebut.

Artikel Terkait