Jakarta memiliki delapan patung ikonik yang tidak hanya menjadi bagian dari keindahan ruang publik, tetapi juga merepresentasikan perjalanan sejarah, perjuangan bangsa, dan perkembangan kota. Patung-patung ini sering dijadikan sebagai tempat untuk menyampaikan pesan dan aksi publik. Salah satu contohnya adalah aksi Greenpeace Indonesia pada 20 Oktober 2026, di mana mereka memanjat Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia dan membentangkan spanduk bertuliskan "Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup” serta “Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?” untuk mendesak pemerintah menangani isu krisis iklim dan protes terhadap kenaikan biaya hidup.
Di hari yang sama, mahasiswa juga melakukan demonstrasi di Tugu Tani, bahkan beberapa di antaranya memanjat patung tersebut untuk menyampaikan tuntutan mereka. Dengan demikian, patung-patung di Jakarta menjadi simbol pergerakan dan ekspresi masyarakat. Lalu, patung-patung ikonik apa saja yang ada di Jakarta? Berikut ulasannya.
Patung Selamat Datang dan Dirgantara
Patung Selamat Datang yang terletak di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, merupakan salah satu patung paling dikenal di kota ini. Patung ini menggambarkan sepasang laki-laki dan perempuan yang memegang bunga serta melambaikan tangan, diresmikan pada 17 Agustus 1962 untuk menyambut atlet dan tamu asing pada Asian Games IV. Karya Edhi Sunarso ini dibangun antara tahun 1961 hingga 1962 saat Soemarno Sosroatmodjo menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Selanjutnya, Patung Dirgantara atau Patung Pancoran yang berada di Jakarta Selatan dibangun antara tahun 1964 hingga 1966 atas inisiatif Presiden Sukarno dan dirancang oleh Edhi Sunarso. Patung perunggu ini menggambarkan sosok manusia angkasa yang meluncur, melambangkan keperkasaan Indonesia di bidang kedirgantaraan. Proyek ini berlangsung pada masa Gubernur Henk Ngantung, Soemarno Sosroatmodjo, hingga awal kepemimpinan Ali Sadikin.
Tugu Tani dan Pembebasan Irian Barat
Patung Tugu Tani yang terletak di Menteng, Jakarta Pusat, dibangun sebagai simbol perjuangan dan pengorbanan rakyat Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan, terutama terkait pembebasan Irian Barat. Patung ini menampilkan seorang petani bersenjata bambu runcing dan seorang perempuan yang membawa bekal, dibuat oleh pematung Uni Soviet Matvey Manizer dan Ossip Manizer sebagai hadiah persahabatan untuk Indonesia antara tahun 1961 hingga 1963 di era Gubernur Soemarno Sosroatmodjo.
Patung Pembebasan Irian Barat yang terletak di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, diresmikan oleh Presiden Sukarno pada 17 Agustus 1963 untuk memperingati kembalinya Irian Barat ke pangkuan Republik Indonesia. Monumen setinggi sekitar 35 meter ini menggambarkan sosok pria dengan rantai yang terputus, melambangkan pembebasan dari belenggu kolonialisme, dibangun antara tahun 1962 hingga 1963 pada masa Gubernur Soemarno Sosroatmodjo.
Patung Arjuna Wijaya dan Jenderal Sudirman
Patung Arjuna Wijaya terletak di persimpangan Jalan M.H. Thamrin dan Jalan Medan Merdeka Barat/Jalan Medan Merdeka Selatan, dekat Monas. Patung ini menggambarkan nilai kepahlawanan dan kepemimpinan, merupakan karya pematung Bali I Nyoman Nuarta yang dibangun pada tahun 1987, menampilkan Arjuna mengendarai kereta perang yang ditarik oleh delapan kuda, terinspirasi dari epos Mahabharata. Pembangunan patung ini diinisiasi oleh Presiden ke-2 RI Soeharto saat DKI Jakarta dipimpin oleh Gubernur R. Soeprapto.
Patung Jenderal Sudirman yang terletak di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat, dibangun antara tahun 2001 hingga 2003 dan diresmikan pada 16 Agustus 2003. Patung perunggu ini menampilkan Panglima Besar Jenderal Sudirman dalam posisi hormat, dibangun untuk menghormati jasa, keteguhan, dan strategi perang gerilya Jenderal Sudirman pada masa revolusi, dalam masa kepemimpinan Gubernur Sutiyoso.
Tugu Proklamasi dan Pahlawan Revolusi
Patung Tugu Proklamasi yang terletak di Jalan Proklamasi, sebelumnya dikenal sebagai Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Menteng, Jakarta Pusat, juga dikenal sebagai Monumen Pahlawan Proklamator Sukarno-Hatta. Patung perunggu berukuran besar ini menampilkan sosok pahlawan Proklamator, Sukarno dan Mohammad Hatta, yang dibuat oleh I Nyoman Nuarta. Posisi dan postur patung ini menyerupai saat Sukarno-Hatta membacakan naskah Proklamasi pada 17 Agustus 1945, diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 17 Agustus 1980.
Patung Pahlawan Revolusi menampilkan tujuh sosok Pahlawan Revolusi dengan latar belakang burung garuda sebagai simbol negara Pancasila. Terletak di Monumen Pancasila Sakti, Jalan Raya Pondok Gede, Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur, patung ini dibangun antara tahun 1967 hingga 1973 dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 1 Oktober 1973. Monumen ini dibangun untuk mengenang para perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang gugur dalam peristiwa G30S/PKI, pada era Gubernur Ali Sadikin.