Fakta Nasional

Delegasi Indonesia Tinggalkan Ruang Sidang saat Pidato Netanyahu di PBB

Delegasi Indonesia ikut serta dalam aksi walk out saat Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyampaikan pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB. Aksi ini diikuti oleh sejumlah delegasi lainnya.

W
Wira Yudha
25 September 2026
41 pembaca
Foto: Kemlu RI
Foto: Kemlu RI

Jakarta - Sejumlah delegasi melakukan aksi walk out ketika Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, akan memberikan pidatonya di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Delegasi Indonesia menjadi salah satu yang turut meninggalkan ruangan tersebut.

Dalam sebuah video yang diterima oleh detikcom pada Jumat (25/9/2026), dari Perwakilan Tetap Republik Indonesia (PTRI) di New York yang dirilis oleh Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, tampak delegasi Indonesia berdiri serentak bersama delegasi lainnya untuk meninggalkan bangku mereka. Ruang tempat duduk Indonesia terlihat kosong setelah aksi tersebut.

Reaksi Netanyahu terhadap Delegasi yang Walk Out

Sementara itu, dilaporkan oleh AFP, tim Netanyahu yang masih berada di dalam ruangan justru memberikan tepuk tangan. Netanyahu bahkan menanggapi dengan menyebut delegasi yang walk out sebagai 'pengecut'. "Jika masih ada pengecut moral lainnya yang belum meninggalkan ruangan ini, silakan pergi," ungkap Netanyahu kepada para delegasi yang meninggalkan ruang sidang.

Pidato ini disampaikan oleh Netanyahu di tengah persiapan pemilu Israel yang dijadwalkan pada 27 Oktober mendatang. Ia memanfaatkan kesempatan di PBB untuk menyerang beberapa pihak yang selama ini mengkritik kebijakan pemerintahannya.

Kritikan terhadap Wali Kota New York dan Negara Lain

Salah satu sasaran kritik Netanyahu adalah Mamdani, wali kota New York yang merupakan politikus Muslim pertama yang menduduki jabatan tersebut. Netanyahu menyebut Mamdani sebagai sosok "antisemit" dan menuduh banyak warga Yahudi merasa tidak aman sejak Mamdani terpilih. "Sejak Anda terpilih sebagai wali kota kota ini, banyak orang Yahudi tidak lagi merasa aman," kata Netanyahu.

Mamdani sebelumnya telah menyampaikan kritik yang tajam terhadap Netanyahu dan menyatakan akan mengeksekusi surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terhadap Netanyahu jika ia memiliki kewenangan. Namun, Mamdani kemudian mengakui bahwa ia tidak memiliki kewenangan tersebut. ICC pada tahun 2024 menyatakan ada dasar yang cukup untuk meyakini bahwa Netanyahu bertanggung jawab atas kejahatan perang dalam operasi Israel di Gaza, yang dibantah oleh Netanyahu.

Netanyahu juga mengarahkan kritiknya kepada Inggris dan Prancis, yang merupakan mitra Israel tetapi belakangan semakin terbuka dalam mengkritik kebijakan pemerintah Israel. Kedua negara tersebut diketahui telah memberlakukan beberapa sanksi terbatas terhadap ekspor Israel dari wilayah Tepi Barat yang diduduki. Netanyahu menyinggung sejarah kolonial kedua negara saat membalas tuduhan bahwa Israel menjalankan kolonialisme. "Mereka menuduh Israel, Israel yang kecil, melakukan kolonialisme. Dan siapa yang menuduh kami? Di antara mereka adalah orang-orang di Inggris dan Prancis. Demi Tuhan, mereka yang menciptakan istilah itu," ujar Netanyahu.

Hubungan Netanyahu dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, juga telah mengalami ketegangan. Macron sebelumnya mendorong negara-negara Barat untuk mengakui Palestina sebagai negara dalam sidang Majelis Umum PBB tahun lalu dan mengkritik kondisi di Gaza serta Tepi Barat dalam pidatonya di PBB tahun ini.

Artikel Terkait