Koperasi Pemulung Berdaya yang didirikan oleh AQUA di Serpong memiliki 59 anggota dan mendukung sekitar 4.000 pemulung, dengan kemampuan mengumpulkan hingga 6 ton botol PET bekas setiap harinya dari wilayah Jabodetabek. Delegasi yang terdiri dari 13 negara ini hadir untuk mempelajari model koperasi yang mengintegrasikan pengumpulan, daur ulang, akses pasar, pelatihan, keselamatan kerja, jaminan pembelian PET, serta fasilitas BPJS bagi pekerja informal.
Melalui program #BijakBerplastik, AQUA mendampingi 10 Unit Bisnis Daur Ulang yang terhubung dengan 25.000 pemulung dan berhasil mengumpulkan 51.000 ton plastik sepanjang tahun 2024. Kunjungan ini berlangsung dalam kerangka Intergovernmental Negotiating Committee on Plastic Pollution di Koperasi Pemulung Berdaya, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, pada Kamis, 15 Oktober 2026, dan merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah Indonesia, pemerintah Norwegia, dan pihak terkait lainnya.
Model Koperasi dan Ekonomi Sirkular
Koperasi Pemulung Berdaya didirikan pada tahun 2010 dan telah berbadan hukum sejak 2013. Koperasi ini berperan penting dalam mendukung ekonomi anggota serta pemulung yang terlibat. Operasional koperasi ini meliputi pengumpulan dan pemilahan botol plastik PET bekas dari Jabodetabek, dengan total pengumpulan mencapai 6 ton per hari, yang kemudian disalurkan kembali ke dalam rantai daur ulang.
Kunjungan internasional ini merupakan bagian dari Jakarta Informal Consultation Meeting, yang memberikan kesempatan bagi delegasi untuk belajar tentang pengelolaan sampah plastik yang efektif, serta pentingnya transisi yang adil dalam penanganan polusi plastik. Dalam pertemuan ini, terungkap bahwa pekerja informal di Koperasi Pemulung Berdaya memiliki peran krusial dalam pengumpulan dan pemulihan material, yang merupakan bagian dari ekonomi sirkular yang sudah ada dan perlu diperhitungkan dalam proses transisi.
Pernyataan dan Harapan untuk Masa Depan
Public Affairs & Sustainability Director Danone Indonesia, Karyanto Wibowo, menyatakan bahwa keberadaan Koperasi Pemulung Berdaya merupakan contoh nyata dari ekonomi sirkular yang melibatkan pekerja sektor informal sebagai bagian dari solusi. Ia menekankan bahwa dalam konteks Indonesia, pekerja informal telah menjadi bagian integral dari ekonomi sirkular yang berjalan, dan transisi yang adil harus memperkuat kondisi kerja mereka, akses perlindungan, infrastruktur, pasar, serta peluang ekonomi yang lebih baik.
Sementara itu, Agus Rusly, Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup, menekankan pentingnya penguatan sistem pengumpulan untuk meningkatkan pengelolaan sampah di tingkat nasional. Ia menyebutkan bahwa Indonesia terus memperkuat kebijakan pengurangan sampah, termasuk melalui penyempurnaan regulasi yang ada, serta perlunya dukungan infrastruktur dan keterlibatan pemerintah daerah untuk mencapai sistem pengurangan sampah yang lebih terintegrasi.
Koperasi Pemulung Berdaya adalah bagian dari Gerakan #BijakBerplastik yang diluncurkan AQUA pada tahun 2018, dengan tujuan untuk mengembangkan infrastruktur pengumpulan, edukasi masyarakat, serta inovasi kemasan yang lebih berkelanjutan. Gerakan ini diharapkan dapat berkontribusi pada target pengurangan sampah oleh produsen sebesar 30 persen pada tahun 2029, sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Delegasi yang hadir menilai bahwa keterhubungan antara pengumpulan material, penguatan koperasi, dan akses ke rantai daur ulang merupakan kekuatan utama dari model yang diterapkan di Koperasi Pemulung Berdaya.