Fakta Nasional

Gede Pasek Kritik Kubu Prabowo yang Diam Terkait Isu Ijazah Gibran

Gede Pasek mengungkapkan keprihatinannya terhadap sikap pasif kubu Prabowo Subianto dalam menghadapi isu ijazah Gibran Rakabuming Raka yang sedang bergulir di Mahkamah Konstitusi.

F
Fidzu Ardaf
25 September 2026
36 pembaca
I Gede Pasek, Ketum PKN dalam Talkshow series #GenZMemilih, "Parpol Baru Bisa Kasih Apa ke Gen Z?" by IDN Times pada Rabu (1/3/2023). (IDN Times/Alya Achyarini)
I Gede Pasek, Ketum PKN dalam Talkshow series #GenZMemilih, "Parpol Baru Bisa Kasih Apa ke Gen Z?" by IDN Times pada Rabu (1/3/2023). (IDN Times/Alya Achyarini)

Gede Pasek Suardika, Ketua Umum Partai Kebangkitan Nasional (PKN), menyoroti kurangnya respons dari kubu Prabowo Subianto terkait polemik ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang kini tengah dibahas di Mahkamah Konstitusi (MK). Pasek berpendapat bahwa isu ini seharusnya menjadi perhatian serius bagi Prabowo, mengingat mereka maju sebagai pasangan dalam pemilihan presiden.

Perhatian Terhadap Pencalonan Gibran

Pasek mempertanyakan mengapa kubu Prabowo terlihat pasif dalam menyikapi masalah yang berkaitan dengan pencalonan Gibran di Pilpres 2024. Dia menekankan bahwa isu ini tidak hanya berkaitan dengan Gibran secara individu, tetapi juga berpengaruh pada Prabowo sebagai pasangan calon. Dia mengingatkan kembali proses politik ketika Prabowo memilih Gibran sebagai calon wakil presiden, yang menurutnya tidak terlepas dari pengaruh Presiden Joko "Jokowi" Widodo.

“Dulu saat Gibran dirayu Prabowo Subianto biar jadi calon wakil presiden sampai empat kali agar mau. Tentu tuah politik Joko Widodo yang diharapkan saat itu. Maklum berpasangan dengan berbagai tokoh selalu beliau gagal saja. Termasuk dua kali melawan Jokowi,” kata dia dalam keterangannya.

Risiko Hukum dan Dukungan Tim Pemenangan

Pasek kemudian menyoroti sikap tim Prabowo setelah Gibran resmi menjabat sebagai wakil presiden. Dia menilai bahwa masalah pencalonan Gibran seharusnya tidak dianggap sebagai urusan pribadi, karena pasangan capres dan cawapres didaftarkan dan dipilih sebagai satu kesatuan. “Kini setelah Gibran Rakabuming resmi menjadi Wapres lalu diserang balik soal ijazah sampai ke MK kok kesannya seperti kubu Prabowo cuek dan terkesan tidak mau tahu,” ujarnya.

Dia juga menjelaskan konsekuensi hukum jika terdapat masalah pada syarat pencalonan. Menurut Pasek, jika ada masalah, maka Prabowo dan Gibran sebagai pasangan harusnya terpengaruh. “Bukankah mereka dipilih berpasangan? Bukan satu-satu. Anggap saja benar bermasalah, maka keduanya harus gugur,” jelasnya.

Pasek menekankan bahwa tim pemenangan Prabowo-Gibran seharusnya memberikan dukungan yang lebih kuat kepada Gibran dalam menghadapi isu ini. Dia merasa bahwa sikap tim tidak menunjukkan solidaritas yang diperlukan, seperti saat mereka menghadapi Pilpres 2024. “Seharusnya tim pemenangan Prabowo-Gibran totalitas ikut berperang melawan serangan ini,” ungkapnya.

Dia juga menggunakan analogi makanan untuk menggambarkan situasi setelah pasangan Prabowo-Gibran memenangkan Pilpres 2024. “Memang ketika kue sudah tersaji, lupa bagaimana bahan-bahan itu dikumpulkan dan dimasak bersama untuk dinikmati,” tambahnya.

Pasek menduga bahwa polemik yang menimpa Gibran tidak hanya berkaitan dengan aspek hukum, tetapi juga memiliki dimensi politik yang lebih luas. Namun, dia tidak menyebutkan secara langsung pihak-pihak yang mungkin terlibat dalam skenario tersebut. “Kalau mau dilihat secara kasat mata sebenarnya sangat terlihat dari kutub mana permainan ini dijalankan,” ucapnya.

Artikel Terkait