Fakta Nasional

Gempa Bumi Magnitudo 5,7 Mengguncang Laut Selatan Sukabumi: Apa yang Perlu Diketahui

Gempa berkekuatan 5,7 mengguncang laut selatan Sukabumi pada 11 Oktober 2026, dengan kedalaman 10 kilometer, dan tidak berpotensi tsunami. Masyarakat pesisir diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan m...

F
Fidzu Ardaf
12 October 2026
29 pembaca
GEMPABUMI TEKTONIK M5,7 DI LAUT SELATAN SUKABUMI, JAWA BARAT, TIDAK BERPOTENSI TSUNAMI (Dok. BMKG)
GEMPABUMI TEKTONIK M5,7 DI LAUT SELATAN SUKABUMI, JAWA BARAT, TIDAK BERPOTENSI TSUNAMI (Dok. BMKG)

Gempa bumi bermagnitudo 5,7 mengguncang wilayah laut selatan Sukabumi, Jawa Barat, pada tanggal 11 Oktober 2026 pukul 10.30 WIB. Dengan kedalaman 10 kilometer, gempa ini dirasakan di daerah Surade dan Tegalbuleud dengan intensitas III MMI (Modified Mercalli Intensity). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Detail Gempa dan Dampaknya

Gempa yang terjadi memiliki episenter pada koordinat 8,87 derajat Lintang Selatan dan 106,41 derajat Bujur Timur, berjarak sekitar 209 kilometer barat daya Kabupaten Sukabumi. Getaran yang dirasakan di Surade dan Tegalbuleud cukup nyata, mirip dengan getaran yang ditimbulkan oleh kendaraan berat yang melintas. Meskipun tidak ada potensi tsunami, kejadian ini tetap menjadi pengingat akan bahaya gempa bumi yang dapat terjadi di kawasan pesisir selatan Jawa.

Penyebab dan Mitigasi Gempa

Gempa ini terjadi di area selatan Jawa yang merupakan lokasi interaksi antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Sunda, bagian dari sistem Lempeng Eurasia. Interaksi ini menghasilkan tegangan tektonik yang dapat menyebabkan gempa tidak hanya pada zona kontak antarlempeng, tetapi juga pada patahan di sekitar zona subduksi. Analisis menunjukkan bahwa gempa ini berkaitan dengan aktivitas patahan dangkal bawah laut dan didominasi oleh pergerakan sesar geser (strike-slip faulting), yang cenderung memiliki potensi lebih kecil untuk memicu tsunami.

Daryono, anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), menekankan bahwa pesisir selatan Jawa Barat dan Banten merupakan daerah yang berhadapan langsung dengan berbagai sumber bahaya gempa. Ia mengingatkan agar gempa ini tidak ditafsirkan sebagai tanda bahwa gempa besar akan segera terjadi, namun juga bukan berarti bahwa potensi gempa besar telah sepenuhnya terlepas. Kesiapsiagaan dan pemahaman risiko sangat penting untuk melindungi masyarakat pesisir.

Untuk mengurangi risiko gempa dan tsunami, Daryono menyarankan beberapa langkah mitigasi, seperti memperkuat bangunan tahan gempa, melakukan pemetaan zona bahaya tsunami, menyediakan jalur dan tempat evakuasi, serta mengadakan latihan evakuasi mandiri. Masyarakat juga perlu memahami tindakan yang harus dilakukan saat merasakan gempa kuat atau berkepanjangan, yaitu segera menjauhi pantai dan menuju lokasi yang lebih tinggi tanpa menunggu peringatan resmi.

Walaupun gempa bumi tidak dapat diprediksi dengan tepat kapan akan terjadi, risiko dan dampaknya dapat diminimalisir melalui pengetahuan, rekayasa bangunan yang baik, sistem peringatan dini, dan kesiapsiagaan masyarakat. Penting bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan tsunami untuk mengenali ancaman, memahami tanda bahaya, dan mengetahui cara menyelamatkan diri dengan cepat.

Artikel Terkait