Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan drastis sebesar 11,57% hingga mencapai level 5.185,10 pada penutupan perdagangan Jumat (16/10/2026), dan diperkirakan akan menguji level 5.000 pada pekan depan. Penurunan ini dipicu oleh ketidakpastian terkait status pasar modal Indonesia dan nilai tukar rupiah yang melemah.
Potensi Penurunan Lebih Lanjut
Tim riset dari Phintraco Sekuritas mengingatkan bahwa IHSG berpotensi turun ke area 4.700 hingga 4.800 jika tekanan jual terus berlanjut. "Apabila tekanan jual berlanjut hingga indeks menembus level tersebut, IHSG berpotensi bergerak menuju area support berikutnya di kisaran 4.700–4.800," tulis tim riset tersebut pada Sabtu (17/10/2026).
Ancaman ini muncul setelah IHSG mengalami tekanan jual yang signifikan pada perdagangan Jumat, bahkan indeks sempat mengalami penghentian sementara atau trading halt setelah jatuh 8% pada pembukaan pasar. Pelemahan rupiah yang menembus Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) juga memperburuk kondisi pasar.
Gejolak Pasar dan Respons Investor
Gabungan dari penurunan nilai saham dan melemahnya nilai tukar menambah tekanan pada pasar keuangan domestik, di tengah meningkatnya kekhawatiran dari para investor. Salah satu pemicu gejolak ini adalah langkah MSCI yang memulai konsultasi mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Usulan ini mencerminkan kekhawatiran terkait tingkat investabilitas pasar saham Indonesia, terutama mengenai transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan aktivitas perdagangan yang terkoordinasi.
Perwakilan OJK melaporkan adanya pertemuan dengan MSCI di Jakarta pada Senin (2/2/2026), di mana dua isu utama yang dibahas adalah transparansi kepemilikan saham dan likuiditas pasar. Meskipun keputusan akhir belum ditetapkan dan dijadwalkan untuk diumumkan paling lambat 30 Juni 2027, pasar sudah bereaksi dengan melakukan aksi jual sebelum kepastian tersebut diperoleh.
Kondisi ini membuat prospek IHSG dalam jangka pendek masih dipenuhi ketidakpastian. Jika tekanan jual terus berlanjut dan level 5.000 tidak dapat dipertahankan, indeks berisiko untuk melanjutkan pelemahan menuju area 4.700–4.800, sesuai dengan proyeksi teknikal dari Phintraco Sekuritas.