Fakta Ekonomi

IHSG Terjun Bebas, Apakah Saatnya Mengkhawatirkan atau Justru Membeli Saham?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Selasa, 20 Oktober 2026, setelah ditutup melemah 3,64 persen. Analis memberikan berbagai proyeksi dan rekomendasi ter...

F
Fidzu Ardaf
20 October 2026
20 pembaca
Penampakan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Penampakan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan bergerak dengan fluktuasi yang tinggi dan peluang penguatan yang terbatas pada Selasa, 20 Oktober 2026. Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mengecualikan delapan puluh saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dan menyesuaikan batas Auto Rejection Bawah. Pada perdagangan sebelumnya, IHSG mencatatkan penurunan sebesar 3,64 persen, atau setara dengan 188,49 poin, sehingga berada di level 4.996,61.

Proyeksi dan Rekomendasi dari Analis

Beberapa analis pasar modal memberikan estimasi mengenai pergerakan teknikal IHSG untuk hari ini. Analis dari MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperkirakan IHSG berpotensi menguji rentang antara 5.046 hingga 5.133 dalam waktu dekat. Namun, ia mengingatkan investor untuk waspada terhadap kemungkinan pembalikan arah menuju rentang 4.766 hingga 4.846. Level support terletak pada posisi 4.915 dan 4.754, sementara resistance berada di 5.318 dan 5.563. Saham yang direkomendasikan meliputi AADI, ADRO, ANTM, dan TAPG.

Di sisi lain, analis Ivan Rosanova dari Binaartha Sekuritas berpendapat bahwa tren koreksi belum sepenuhnya berakhir, dengan target Fibonacci 200 persen di level 4.737. Ia menyatakan bahwa peluang rebound masih ada jika indeks mampu bertahan di atas level tersebut hingga akhir pekan. Level support ditetapkan di 4.900, 4.767, dan 4.629, sedangkan resistance berada di 5.068, 5.167, dan 5.328. Rekomendasi saham dari Binaartha mencakup INCO, JPFA, PGAS, dan PGEO.

BRI Danareksa Sekuritas juga menilai bahwa momentum bearish masih mendominasi setelah indeks menembus area neckline 6.000, dengan batas support teknikal di 4.953 dan 4.757. Mereka merekomendasikan untuk membeli saham INCO (target Rp3.580–Rp4.000), AADI (target Rp10.428–Rp10.810), dan BUKA (target Rp104–Rp108). Sementara itu, Pilarmas Investindo Sekuritas mencatat bahwa tekanan jual masih berlanjut karena investor menghindari aset berisiko selama proses peninjauan klasifikasi pasar oleh MSCI.

Kebijakan BEI dan Sentimen Pasar

Menanggapi gejolak yang terjadi di pasar akibat isu MSCI, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah memberlakukan beberapa penyesuaian operasional untuk menstabilkan kondisi perdagangan. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengonfirmasi bahwa pergerakan 80 saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) tidak akan lagi diperhitungkan dalam indeks IHSG. Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan kredibilitas indeks tanpa melakukan penghapusan pencatatan (delisting).

BEI juga menetapkan batas Auto Rejection Bawah (ARB) asimetris sebesar -7 persen untuk saham dengan harga di atas Rp10 per lembar, yang berlaku dari 19 Oktober hingga 31 Desember 2026. Selain itu, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada pengumuman suku bunga acuan dari bank sentral Tiongkok serta dimulainya Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.

Pada perdagangan sebelumnya, yaitu Senin (19/10/2026), IHSG sempat merosot hingga 5,36 persen ke level terendah harian di 4.907,37 sebelum mengurangi sebagian penurunan dan ditutup di level 4.996,61. Total volume transaksi mencapai 34,07 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp25,13 triliun. Sebanyak 656 saham ditutup di zona merah, 100 saham mengalami penguatan, dan 43 saham stagnan. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih mencapai Rp1,72 triliun di seluruh pasar, dengan tekanan terbesar terjadi pada sektor barang baku, barang konsumen non-primer, teknologi, dan keuangan, yang dipicu oleh penurunan saham-saham besar seperti BBCA, BBRI, BYAN, TLKM, dan AMMN.

suara.com Sumber: suara.com

Artikel Terkait