Jakarta - Matematika sering kali menjadi mata pelajaran yang dihindari oleh banyak siswa karena dianggap sulit. Kerumitan materi, banyaknya rumus, serta angka-angka yang membingungkan menjadi beberapa alasan utama. Oleh karena itu, para pendidik dituntut untuk berinovasi dan menciptakan metode pembelajaran yang lebih menarik. Salah satu inovator dalam bidang ini adalah Erika Dewi Agustin, seorang lulusan Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Erika berhasil menggabungkan seni tari dengan matematika, khususnya dalam pengajaran konsep geometri. Ia memanfaatkan gerakan tari Kembang Kahyangan yang kaya akan pola dan kelenturan untuk membuat pembelajaran matematika menjadi lebih menarik. Dengan metode ini, Erika menciptakan media pembelajaran yang dikenal sebagai etnomatematika, yang dirancang khusus untuk membantu siswa kelas 2 SD memahami geometri dengan lebih mudah.
Inspirasi dari Budaya Lokal
Ide untuk menggabungkan seni tari tradisional dari Kabupaten Bojonegoro dengan matematika muncul setelah Erika berdiskusi dengan siswa SD di daerah tersebut. Dalam percakapan itu, ia menemukan bahwa generasi muda mulai kehilangan keterikatan dengan Tari Kembang Kahyangan, yang merupakan warisan budaya mereka. Rasa prihatin tersebut mendorongnya untuk menciptakan karya ilmiah yang mengintegrasikan budaya lokal dengan pendidikan matematika, seperti yang dilaporkan oleh Unesa.
Sebelum menempuh pendidikan di Unesa, Erika lulus dari SMK dengan jurusan rekayasa perangkat lunak (RPL), yang memberikan bekal teknologi yang kuat untuk merancang media pembelajaran yang adaptif. Kreativitasnya membuahkan hasil yang menggembirakan, di mana artikel ilmiahnya berhasil diterbitkan di jurnal nasional terakreditasi Sinta 2. Pencapaian ini juga membuatnya lulus tanpa melalui jalur skripsi konvensional dan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Unesa dengan IPK 3,98.
Perjuangan dan Harapan Keluarga
Erika lahir dari keluarga sederhana, dengan ayahnya Ponco yang bekerja sebagai petani dan ibunya Nyami Muharti seorang ibu rumah tangga. Sebagai anak tunggal, Erika tumbuh dengan disiplin tinggi yang ia terapkan selama kuliah, selalu menyelesaikan tugas jauh sebelum tenggat waktu. Ia merasa bertanggung jawab untuk menjaga harapan keluarganya, dan setiap usaha serta pengorbanan orang tuanya menjadi motivasi untuk memberikan hasil terbaik.
Sekarang, Erika telah meraih gelar sarjana dan siap menerapkan pengetahuan serta pengalaman yang didapat selama kuliah, termasuk mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa dan Program Surabaya Mengajar (PSM), dalam kariernya sebagai guru SD. Unesa memberikan apresiasi terhadap prestasi Erika, menyampaikan bahwa perjalanan studinya mengirimkan pesan penting agar mahasiswa berani mengejar impian dan berinovasi dalam pendidikan.
"Ketika sebuah impian dikejar dengan totalitas, rumus matematika yang rumit pun bisa diubah menjadi untaian prestasi yang melestarikan budaya bangsa," tulis Unesa.