Jusuf "JK" Kalla, yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, tidak hanya fokus mengajar di ruang kelas selama kunjungannya di Illinois, Amerika Serikat. Ia juga meluangkan waktu untuk jogging di Hutan Kota DeKalb demi menjaga kebugaran tubuhnya. Dalam foto yang beredar, JK tampak jogging di pagi hari bersama sejumlah profesor dan mahasiswa program doktoral.
Pada Kamis, 15 Oktober 2026, JK berlari menyusuri hutan kota yang terletak di belakang Hopkins Park. Dikelilingi oleh pepohonan yang rimbun dan dedaunan musim gugur, ia berolahraga bersama para akademisi dari Northern Illinois University (NIU). JK yang mengenakan jaket putih terlihat bugar dan menikmati suasana santai di luar kelas. "Ini merupakan cara JK menjaga stamina agar tetap bugar menjalani rangkaian agenda akademik di tengah udara musim gugur yang dingin," demikian keterangan tertulis yang diterima.
Interaksi Akademik yang Santai
Selama jogging, JK juga berkesempatan berinteraksi dengan para akademisi dan mahasiswa dalam suasana yang lebih informal. Ia dijadwalkan berada di DeKalb dari 10 hingga 21 Oktober 2026. Setelah sesi olahraga, mantan Ketua Umum Partai Golkar ini melanjutkan agenda akademiknya dengan memberikan kuliah di ruang kelas utama Altgeld Hall #315, NIU. Dalam kuliah tersebut, JK membahas topik 'Indonesia at a Crossroads: What's Changing in Its Politic and Why.'
Pembahasan tentang Demokrasi di Indonesia
JK menjelaskan perubahan yang terjadi dalam politik Indonesia dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Sebelumnya, ia juga membahas sistem demokrasi liberal di Indonesia pascareformasi, yang menurutnya memiliki banyak kelemahan. Salah satu kelemahan yang diidentifikasi adalah bahwa sistem pemilihan saat ini lebih mengutamakan popularitas dan kekuatan finansial dibandingkan kompetensi pemimpin.
Oleh karena itu, JK mengusulkan pentingnya menghidupkan kembali Garis Besar Haluan Negara (GBHN) sebagai pedoman dalam pembangunan bangsa. Ia mengakui bahwa meskipun demokrasi liberal pascareformasi telah membuka akses kompetisi politik yang lebih luas dan inklusif, kebebasan tersebut tidak selalu diimbangi dengan munculnya pemimpin yang berpengalaman dan berkualitas. "Dalam proses pemilihan, popularitas dan kemampuan finansial cenderung lebih menentukan dibandingkan kompetensi dan kualitas kepemimpinan," ungkap JK.
Di forum akademik tersebut, JK menekankan urgensi untuk menghidupkan kembali GBHN, terutama karena arah pembangunan di Indonesia saat ini tampak tidak menentu. Ia menegaskan bahwa wacana ini tidak bertujuan untuk mengembalikan Indonesia ke era demokrasi terpimpin, melainkan demi kepentingan perencanaan nasional. Tanpa adanya haluan negara, program pembangunan sering kali terputus atau berubah total setiap kali terjadi pergantian presiden, sehingga pencapaian dan tujuan jangka panjang dari setiap periode kepemimpinan menjadi sulit diukur secara berkelanjutan.
"GBHN itu penting agar negara bisa bikin perencanaan jangka panjang atau jangka menengah. Tapi prinsip pokoknya tetap pemilihan langsung, itu hak rakyat dalam demokrasi," tegas JK, yang berasal dari Sulawesi Selatan.