TNI Angkatan Udara menginformasikan bahwa 18 jet tempur Rafale akan mulai tiba secara bertahap dari tahun 2027 hingga 2029. Ini merupakan bagian dari kontrak pengadaan dengan Dassault Aviation yang mencakup total 42 unit. Enam unit Rafale yang telah diterima saat ini ditempatkan di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, dan empat pilot TNI AU telah menyelesaikan pelatihan di Prancis.
Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Udara, Marsekal Madya TNI Tedi Rizalihadi, menyampaikan bahwa kedatangan jet tempur tersebut akan berlangsung secara bertahap. "Berikutnya di tahun depan, kita akan kedatangan lagi 18 (jet tempur Rafale) secara bertahap. Ketibaan alutsista itu diperkirakan bertahap sampai 2029," jelas Tedi saat berada di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, pada 24 September 2026.
Rincian Pengadaan dan Penempatan Jet Tempur
Saat ini, Indonesia telah menerima enam unit Rafale dari total 42 yang dipesan. Keenam jet tempur tersebut ditempatkan di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau, yang dipilih karena lokasinya yang strategis untuk mengamankan wilayah udara bagian barat Indonesia dan Selat Malaka. Jet tempur Rafale pertama kali diperkenalkan pada HUT ke-81 RI dengan atraksi manuver High G-turn yang menunjukkan kemampuan pesawat tersebut.
Kepala Staf TNI Angkatan Udara, Marsekal Tonny Harjono, menuturkan bahwa manuver tersebut dipilih untuk menunjukkan kemampuan luar biasa dari Rafale. "Kami ingin tunjukkan kepada Bapak Presiden dan masyarakat soal kemampuan High-G turn ini yang bagus sekali," ungkap Tonny pada 15 Agustus 2026.
Pelatihan Pilot dan Anggaran Pembelian
Empat pilot TNI AU telah menyelesaikan pelatihan pengoperasian jet tempur Rafale di Pangkalan Udara 113 Saint-Dizier pada Desember 2025. Pelatihan berlangsung selama empat bulan dengan berbagai materi, termasuk penerbangan siang dan malam. Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama I Nyoman Suadnyana, menjelaskan bahwa para penerbang juga dilatih dalam metode air to ground dan navigasi tingkat rendah.
Setelah pelatihan, keempat pilot melanjutkan ke Paris untuk mengikuti kursus mengenai AASM (Armage Air-Sol Modulaire) Hammer, senjata presisi yang dikembangkan oleh Safran. Presiden Prabowo Subianto, saat menjabat sebagai Menteri Pertahanan, telah mengkonfirmasi bahwa 42 jet tempur Rafale akan tiba di Indonesia secara bertahap, meskipun tidak mengungkapkan total nilai kontrak pembelian.
Juru bicara Menteri Pertahanan sebelumnya, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengungkapkan bahwa nilai kontrak untuk enam jet tempur Rafale tahap pertama mencapai 1,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp15,7 triliun. Ia menekankan bahwa proses pengadaan alutsista memerlukan waktu yang cukup lama, dengan prediksi waktu delivery mencapai hampir lima tahun.
Secara keseluruhan, anggaran untuk pengadaan 42 jet tempur Rafale diperkirakan mencapai sekitar Rp109,9 triliun.