Fakta Nasional

Kedatangan Presiden Iran di New York di Tengah Ketegangan dengan AS

Presiden Iran Masoud Pezeshkian tiba di New York untuk menghadiri Sidang Umum PBB, meskipun negara tersebut terlibat dalam konflik dengan Amerika Serikat. Kunjungan ini berlangsung di saat ancaman dar...

D
Dila Rakasiwi
23 September 2026
32 pembaca
Presiden Iran Masoud Pezeshkian (Foto: via REUTERS/Iran's Presidential website)
Presiden Iran Masoud Pezeshkian (Foto: via REUTERS/Iran's Presidential website)

Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah tiba di New York, Amerika Serikat, untuk berpartisipasi dalam sesi ke-81 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kedatangan Pezeshkian terjadi di tengah situasi tegang antara Iran dan AS, di mana kedua negara sedang berperang.

Menurut laporan dari Anadolu Agency pada Rabu (23/9/2026), Pezeshkian disambut oleh sejumlah pejabat diplomatik Iran, termasuk duta besar dan wakil perwakilan tetap Iran untuk PBB. Selama berada di New York, Pezeshkian direncanakan akan mengadakan pertemuan dengan beberapa kepala negara serta tokoh politik dan budaya lainnya dalam rangkaian acara diplomatik tersebut. Pidato resminya di depan Majelis Umum dijadwalkan berlangsung pada Rabu (23/9) waktu setempat.

Kunjungan di Tengah Konflik

Kunjungan ini berlangsung di tengah perang yang terus berlanjut antara Iran dan Amerika Serikat. Meskipun dalam keadaan konflik, pemerintahan Donald Trump memberikan izin kepada delegasi inti Iran untuk menghadiri pertemuan PBB. Delegasi yang diizinkan mencakup Pezeshkian, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, serta beberapa staf diplomatik penting. Namun, pihak berwenang AS menolak visa untuk beberapa anggota tambahan, termasuk beberapa staf media presiden.

Pernyataan Pezeshkian

Pezeshkian menyatakan tekadnya untuk menunjukkan bahwa Iran siap menghadapi tantangan dari AS. Ia menegaskan, "Kita berhasil menghadapinya dengan kepala tegak, dan ini merupakan sumber martabat dan kebanggaan bagi kita semua," saat berbicara kepada wartawan sebelum keberangkatannya dari Iran, seperti yang ditayangkan oleh televisi pemerintah Teheran.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan rencananya untuk mengambil langkah besar terkait Iran. Ia menggambarkan situasi ini sebagai pilihan antara mencapai kesepakatan atau menghancurkan Iran. "Akankah kesepakatan dicapai dengan Iran yang memungkinkan mereka bangkit kembali dan membangun negara yang jauh lebih hebat daripada sebelumnya-mungkin salah satu yang terhebat di Timur Tengah atau bahkan di dunia?" ungkap Trump.

Trump juga menambahkan, "Atau haruskah saya menghancurkan Republik Islam itu dengan cepat, tanpa pernah memberi mereka kesempatan untuk membunuh serta menghancurkan orang dan negara lagi?" Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat berpidato di hadapan Majelis Umum PBB, di mana ia mengancam untuk mencampakkan Iran ke dalam kehancuran tanpa peluang untuk selamat.

Artikel Terkait