Mahasiswa yang tergabung dalam Forum Komite Selamatkan Daulat Rakyat melakukan pemblokiran sebagian Jalan Menteng Raya menuju Stasiun Gambir di Tugu Tani, Jakarta Pusat, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Aksi ini mengakibatkan kemacetan yang signifikan, dengan hanya dua lajur yang dapat dilalui oleh kendaraan roda empat, sementara dua lajur lainnya ditutup oleh massa aksi. Puluhan petugas kepolisian dikerahkan untuk mengamankan jalannya demonstrasi dan mengatur arus lalu lintas agar tidak semakin tersendat.
Alasan Pemilihan Lokasi Aksi
Wakil Ketua BEM UI, Fathimah Azzahra, mengungkapkan bahwa pemilihan lokasi demonstrasi di Tugu Tani dilakukan karena tuntutan yang diangkat lebih dekat dengan isu-isu yang dihadapi oleh masyarakat akar rumput. Ia menjelaskan bahwa aksi kali ini memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan demonstrasi sebelumnya yang berlangsung di Bundaran Hotel Indonesia. Menurutnya, mahasiswa ingin menyoroti isu-isu yang lebih spesifik dan berdampak langsung pada masyarakat, termasuk masalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). "Karena memang nuansanya berbeda ya. Kalau yang sekarang kita sangat prihatin dengan kondisi karhutla dan sebagainya. Kemudian juga tuntutan-tuntutan kita tuh yang sekarang sangat-sangat berfokus pada apa ya? Concern yang sangat-sangat grassroot," ujarnya.
Strategi Baru dalam Pelaksanaan Aksi
Fathimah juga menjelaskan bahwa BEM UI menerapkan pola baru dalam keberangkatan peserta aksi. Mahasiswa kali ini diminta untuk datang secara mandiri ke lokasi demonstrasi, berbeda dengan sebelumnya yang menggunakan kendaraan umum seperti Kopaja. Pendekatan ini diambil setelah mahasiswa mengalami berbagai kendala saat menuju lokasi aksi sebelumnya. "Nah, ini kita juga mencoba model baru sebenarnya di aksi kali ini. Kali ini kita tidak menggunakan kopaja gitu ya. Kita kali ini setiap orang langsung OTW aja ke sini, langsung datang masing-masing untuk kita coba nih kalau seandainya kayak gitu tuh gimana," katanya.
Fathimah menambahkan bahwa pada aksi sebelumnya, kendaraan yang disiapkan sering kali mengalami masalah, bahkan ada yang membatalkan keberangkatan di saat-saat terakhir. "Karena kita kan sudah berkali-kali juga ya di cegat, bahkan bukan cuma di cegat aja tapi si kopaja kita juga tiba-tiba membatalkan diri terakhir kali ya kan, sampai kita harus tiba-tiba sewa maut," jelasnya. Dengan pola keberangkatan mandiri, BEM UI berharap mahasiswa dapat berkumpul tanpa hambatan, yang pada gilirannya akan mempengaruhi kondisi psikologis peserta saat berada di lokasi aksi. "Jadi kita mau coba apakah kita bisa mencoba cara-cara yang lebih cair, yang lebih memudahkan kita untuk berkumpul bareng tanpa adanya hambatan," tutupnya.