Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) melakukan penguatan terhadap aktivasi Pos Sahabat Perempuan dan Anak (Pos SAPA) di Aceh dan Sumatera Barat. Inisiatif ini bertujuan untuk mendekatkan layanan perlindungan bagi masyarakat yang terdampak bencana.
Pembekalan untuk Petugas Pos SAPA
Para petugas yang terlibat dalam Pos SAPA mendapatkan pelatihan mengenai aduan, deteksi dini, rujukan kasus, serta mekanisme operasional layanan. Pos SAPA ini mencakup 13 wilayah yang terdampak bencana dan juga berfokus pada edukasi pencegahan serta pendataan kebutuhan dasar anak.
“Pos SAPA menjadi simpul koordinasi perlindungan perempuan dan anak yang diharapkan dapat mendekatkan akses masyarakat terhadap bantuan dan pendampingan. Kita perlu memastikan masyarakat mengetahui ke mana harus melapor ketika terjadi kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta memastikan petugas memahami langkah yang harus dilakukan,” ungkap Asisten Deputi Perlindungan Anak dalam Kondisi Khusus Kemen PPPA, Susanti.
Kesiapan dan Dukungan di Wilayah Terdampak
Penguatan juga dilakukan di Kabupaten Solok, di mana Perencana Ahli Madya Kemen PPPA, Ratih Rachmawati, menekankan pentingnya kesiapan mekanisme operasional. “Yang paling penting adalah mendekatkan akses layanan kepada perempuan dan anak di wilayah terdampak bencana. Pos SAPA diharapkan menjadi perpanjangan layanan pemerintah daerah, sehingga masyarakat yang membutuhkan bantuan dapat memperoleh respons awal tanpa harus menghadapi kesulitan untuk menjangkau layanan perlindungan,” jelas Ratih.
Pemerintah daerah setempat telah menyiapkan SK petugas dan jadwal piket. Kepala DPPKB P3A Solok, Maryeti Marwazi, menyatakan kesiapan jajarannya. “Kami berharap para petugas Pos SAPA dapat menjalankan tugas dengan penuh kepedulian dan kesiapsiagaan dalam memberikan layanan kepada perempuan dan anak. Dengan adanya Pos SAPA, kami ingin memastikan setiap kejadian yang menyangkut perempuan dan anak dapat diketahui dan ditindaklanjuti melalui koordinasi dengan pihak terkait,” kata Maryeti.