Kenaikan harga cabai masih terjadi di berbagai pasar, disebabkan oleh belum normalnya pasokan dari petani. Kemarau yang berkepanjangan dan masa transisi panen menyebabkan produksi cabai menurun, sementara tanaman baru belum banyak yang dapat dipanen. Petani cabai yang tergabung dalam Asosiasi Champion Cabai Indonesia (ACCI) di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Teguh Suprapto, menjelaskan bahwa saat ini petani sedang dalam fase peralihan dari tanaman yang sudah dipanen menuju tanaman baru.
"Petani cabai di Banjarnegara sekarang memasuki masa transisi, dari tanaman yang sudah habis panen menuju tanaman yang menghadapi panen lagi. Tanaman yang baru ditanam belum banyak yang menghasilkan," ungkap Teguh pada hari Sabtu (19/9).
Produksi Cabai Tertekan oleh Kemarau
Kemarau yang berkepanjangan juga mengakibatkan terbatasnya pasokan air, sehingga sejumlah sentra cabai tidak dapat memproduksi hasil panen secara optimal. Di tingkat petani, harga cabai rawit merah kini berkisar Rp55.000 per kilogram, cabai merah keriting sekitar Rp42.000 per kilogram, dan cabai rawit hijau berada di kisaran Rp32.000 per kilogram. Tekanan harga bahkan lebih tinggi di tingkat konsumen, seperti di Pasar Manis Purwokerto, di mana harga cabai merah besar mencapai Rp60.000 per kilogram, naik dari Rp55.000 per kilogram. Harga cabai rawit merah juga meningkat menjadi Rp75.000 per kilogram, dari sebelumnya Rp72.500 per kilogram dalam dua minggu terakhir, sementara cabai merah keriting naik dari Rp55.000 menjadi Rp60.000 per kilogram sejak 17 September.
Cabai rawit hijau juga mengalami kenaikan harga, kini mencapai Rp65.000 per kilogram, meningkat dari sekitar Rp55.000 per kilogram sejak awal bulan September.
Proyeksi Pemulihan Pasokan Cabai
Teguh memperkirakan bahwa pasokan cabai dari Banjarnegara akan mulai meningkat pada bulan Oktober hingga November, saat tanaman baru memasuki masa panen. Namun, beberapa tanaman di wilayah Banjarnegara bagian atas diperkirakan baru bisa dipanen pada akhir Oktober karena masa panennya yang lebih lambat.
"Umur panennya di sini memang lebih lambat. Mungkin akhir Oktober mulai panen, kemudian Oktober-November akan semakin banyak," tambahnya.
Kondisi serupa mungkin juga akan terjadi di daerah sentra cabai lainnya yang terdampak oleh kemarau. Kekurangan air membuat beberapa tanaman lebih cepat rusak dan mengering, sehingga produktivitasnya menurun. Kepala Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Banyumas, Gatot Eko Purwadi, sebelumnya juga menyatakan bahwa kenaikan harga berkaitan dengan regenerasi tanaman di tingkat petani.
"Petani sedang regenerasi tanaman. Yang lama menghabiskan sisa tanam, kemudian yang baru ini masih menunggu panen," jelas Gatot.
Dengan pasokan yang masih terbatas, harga cabai berpotensi mengalami kenaikan sebelum produksi tanaman baru mulai memasuki pasar dalam jumlah lebih banyak. Panen pada bulan Oktober-November diharapkan dapat menjadi titik balik bagi pasokan. Jika produksi kembali meningkat, diharapkan tekanan terhadap harga cabai di tingkat konsumen dapat mereda.