Fakta Ekonomi

Kenaikan Harga Makanan dan Minuman Olahan Terancam Akibat Stok Bahan Baku Menipis

Kenaikan harga produk makanan dan minuman olahan diprediksi terjadi seiring dengan menipisnya stok bahan baku yang disebabkan oleh keterlambatan penetapan Neraca Komoditas 2027.

F
Fidzu Ardaf
18 October 2026
14 pembaca
Ilustrasi bahan makanan olahan
Ilustrasi bahan makanan olahan

Harga produk makanan dan minuman olahan berpotensi meningkat jika industri mengalami kekurangan bahan baku akibat keterlambatan dalam penetapan Neraca Komoditas (NK) 2027. Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi), Adhi S. Lukman, mengungkapkan bahwa stok beberapa bahan baku seperti gula, garam, dan jagung diperkirakan hanya akan mencukupi kebutuhan industri hingga Desember 2026.

Urgensi Penetapan Neraca Komoditas

Kondisi ini menuntut adanya kepastian pasokan bahan baku untuk tahun mendatang. Terlebih lagi, industri makanan dan minuman tengah mempersiapkan distribusi untuk menghadapi periode Natal dan Tahun Baru (Nataru), Imlek, serta Ramadan dan Lebaran 2027. "Karena ini sangat penting sekali. Karena kita juga mengingat gini, kondisi global. Saat ini penuh ketidakpastian. Ada gangguan logistik, naik turunnya harga, dan bahkan beberapa negara melarang ekspor komoditi-komoditi tertentu dan juga masalah climate change," jelas Adhi.

Pentingnya Kepastian Pasokan Bahan Baku

Adhi menambahkan bahwa keterlambatan dalam penetapan Neraca Komoditas dapat mengganggu kelancaran pemenuhan bahan baku industri. Oleh karena itu, Gapmmi meminta pemerintah untuk mempercepat pembahasan mengenai kebutuhan komoditas untuk tahun depan, agar perusahaan dapat memiliki kepastian dalam menyusun perencanaan produksi. Dia menekankan bahwa industri memerlukan kepastian pasokan bahan baku, baik yang berasal dari dalam negeri maupun impor.

Ketersediaan bahan baku dengan harga yang kompetitif dianggap sangat penting untuk menjaga daya saing produk, sekaligus mencegah beban biaya yang berlebihan jatuh kepada konsumen. "Ini sangat penting sekali, supaya industri ini bisa membuat perencanaan dengan baik dan juga mendapatkan harga-harga yang terbaik karena ujung-ujungnya adalah konsumen. Kalau kita dapatnya mahal, kemudian ini ujung-ujungnya konsumen yang akan menanggung. Dan juga daya saing produk kita di pasar global akan semakin kalah," tutupnya.

suara.com Sumber: suara.com

Artikel Terkait