Jakarta - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Kedua negara kini saling melontarkan ancaman terbaru, menandakan semakin memanasnya situasi. Perseteruan ini semakin intensif setelah serangan gabungan yang dilakukan oleh AS dan Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu, yang mengakibatkan tewasnya Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran saat ini.
Setelah serangan tersebut, AS dan Iran terlibat dalam saling serang yang berpotensi meluas, berdampak pada negara-negara lain di Timur Tengah dan menyebabkan penutupan akses di Selat Hormuz. Beberapa upaya perundingan telah dilakukan untuk mencapai kesepakatan damai, namun hingga kini belum membuahkan hasil. Saat ini, pemimpin kedua negara saling mengeluarkan ancaman untuk melakukan serangan lebih lanjut.
Ancaman dari Presiden Trump
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa ia berada dalam "mode pengambilan keputusan" yang penting terkait konflik dengan Iran. Dalam pernyataannya, Trump memperingatkan bahwa "hal-hal besar" akan terjadi jika Iran tidak mengubah perilakunya. "Pertanyaannya adalah apakah dan kapan saya akan menghancurkan seluruh negara itu? Sebaiknya mereka (Iran) bersikap baik," ungkap Trump dalam wawancara dengan Fox News.
Dalam wawancara yang ditayangkan pada 20 September, Trump menjelaskan berbagai pilihan yang ada, mulai dari menghancurkan Iran hingga membiarkan negara tersebut mengalami keruntuhan ekonomi, serta kemungkinan untuk merundingkan kesepakatan baru. "Hal-hal sangat besar akan terjadi dalam waktu dekat," tegasnya.
Menanggapi situasi tersebut, Trump juga menyebutkan kemungkinan untuk melakukan pendekatan diplomatik, termasuk potensi pertemuan dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di Majelis Umum PBB yang berlangsung di New York.
Peringatan dari Iran
Di sisi lain, Iran mengeluarkan peringatan keras kepada AS jika melanjutkan operasi militer terhadap Teheran. Angkatan Bersenjata Iran menegaskan bahwa setiap serangan dari AS akan memicu balasan yang berkelanjutan terhadap pangkalan dan kepentingan AS di Timur Tengah. "Setiap serangan AS akan dibalas dengan serangan terus-menerus terhadap pangkalan dan kepentingan AS," demikian pernyataan resmi mereka.
Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, yang merupakan pusat komando angkatan bersenjata Iran, menyatakan bahwa mereka telah menerima informasi mengenai rencana AS untuk melanjutkan serangan. Mereka juga memperingatkan bahwa negara-negara yang mendukung agresi AS akan dianggap terlibat dalam tindakan tersebut.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menambahkan bahwa jika AS kembali menyerang, mereka akan menggunakan senjata baru dan menargetkan lokasi-lokasi yang berbeda. "Jika terjadi agresi baru, kami tentu akan mengubah persenjataan dan cakupan wilayah perang," kata juru bicara IRGC, Hossein Mohebbi. Dia menekankan bahwa mereka siap menghadapi "perang berkepanjangan" dan akan memperkenalkan senjata-senjata baru yang mengejutkan di medan perang.
Dengan situasi yang semakin tegang ini, baik AS maupun Iran tampaknya terjebak dalam jalan buntu, meskipun keduanya tidak ingin terlibat dalam perang skala penuh.