Fakta Nasional

Ketegangan Meningkat antara Malaysia dan AS Setelah Anwar Ibrahim Mengusir Warga Israel

Hubungan antara Amerika Serikat dan Malaysia mengalami ketegangan setelah Perdana Menteri Anwar Ibrahim menyatakan akan mendeportasi warga Israel yang ditemukan tinggal di Malaysia.

A
Agustinus Jaya Wiratama
24 July 2026
20 pembaca
Foto: PM Malaysia Anwar Ibrahim (Reuters)
Foto: PM Malaysia Anwar Ibrahim (Reuters)

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Malaysia meningkat setelah Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, mengumumkan bahwa negara tersebut akan mendeportasi warga Israel jika mereka ditemukan berada di wilayahnya. Pernyataan ini disampaikan saat pihak berwenang Malaysia menyelidiki keterlibatan seorang warga negara Israel dalam kegiatan di sebuah komunitas hunian di Johor.

Anwar menegaskan bahwa lembaga-lembaga terkait sedang melakukan penyelidikan terhadap dugaan tersebut dan menekankan bahwa pemerintah Malaysia tidak akan berkompromi jika terbukti ada pelanggaran. "Jika ditemukan adanya pelanggaran, tindakan tegas harus diambil," ujarnya.

Penegasan Kebijakan Malaysia

Perdana Menteri Anwar juga menegaskan bahwa Malaysia tidak akan mengakui keberadaan Israel. Ia menyatakan, "Jika kita menemukan warga negara Israel, kita akan segera mendeportasi mereka karena Malaysia tidak mengakui Israel." Secara umum, pemegang paspor Israel dilarang memasuki Malaysia tanpa izin khusus karena negara tersebut tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

Kementerian Dalam Negeri Malaysia memulai penyelidikan setelah pemerintah negara bagian Johor meminta dilakukan investigasi terkait dugaan yang melibatkan Network School. Pada Rabu (15/7), Departemen Imigrasi Malaysia melaporkan bahwa 266 warga negara asing yang diperiksa di komunitas internasional di Forest City memiliki dokumen imigrasi yang sah.

Reaksi AS terhadap Kebijakan Malaysia

Departemen Luar Negeri AS memanggil Duta Besar Malaysia untuk menjelaskan sikap Kuala Lumpur terkait Israel. Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohamad Hasan, menjelaskan bahwa kebijakan tidak mengakui Israel telah lama diterapkan. "Itu memang sudah menjadi kebijakan Malaysia sejak lama," tegasnya.

Dalam konteks ini, Anwar Ibrahim menegaskan bahwa Malaysia tidak akan terpengaruh oleh ancaman dari AS. Ia menyatakan, "Malaysia tidak melanggar hukum internasional apa pun dengan menerapkan kebijakan tersebut." Pernyataan ini muncul sebagai tanggapan terhadap kemarahan delapan anggota Kongres AS yang mengecam kebijakan deportasi tersebut.

Anwar menambahkan bahwa Malaysia akan terus mendukung perjuangan Palestina dan tidak akan mengizinkan warga negara Israel untuk tinggal di negara tersebut. "Kami akan terus melanjutkan kebijakan ini dan tidak akan mengizinkan warga negara Israel menginjakkan kaki di Malaysia," ujarnya.

Meski menghadapi tekanan dari anggota Kongres AS, Anwar menegaskan bahwa Malaysia tetap menjalin hubungan baik dengan AS dan menyambut investasi dari negara tersebut. "Kami menjalin hubungan baik dengan Amerika Serikat sama seperti kami melakukannya dengan negara-negara lainnya," tutupnya.

Artikel Terkait