Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, mengungkapkan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah menyebabkan nilai tukar rupiah melemah hingga mencapai Rp17.847 per dolar AS. Dalam menghadapi tekanan ini, Bank Indonesia melakukan intervensi yang konsisten di pasar domestik dan offshore melalui berbagai metode seperti transaksi spot, Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN).
Berdasarkan data dari Bloomberg, rupiah ditutup pada level Rp17.847 per dolar AS, mengalami penurunan sebesar 88 poin atau 0,50 persen dibandingkan dengan pekan sebelumnya yang berada di Rp17.731 per dolar AS. Erwin menjelaskan, "Pelemahan nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh kekhawatiran tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak tetap tinggi di atas 100 dolar AS per barel, sehingga meningkatkan risiko inflasi global dan tekanan pada outlook fiskal."
Strategi Intervensi Bank Indonesia
Erwin menegaskan bahwa Bank Indonesia akan terus aktif di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berfungsi dengan baik dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap sesuai dengan fundamentalnya. Upaya ini dilakukan melalui pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang dan memperkuat strategi operasi moneter yang berorientasi pada mekanisme pasar.
Ia menambahkan, "Intervensi akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder." Bank Indonesia juga terus melakukan koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar untuk mendorong arus masuk modal asing dengan memaksimalkan berbagai insentif yang telah diberikan.
Peningkatan Cadangan Devisa
Di tengah tekanan yang ada, Bank Indonesia mencatat bahwa pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan pergerakan mata uang di kawasan. Secara quarter-to-date (QTD), rupiah tercatat menguat sebesar 0,37 persen. Selain itu, posisi cadangan devisa Indonesia juga mengalami peningkatan, mencapai 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026. Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus melakukan stabilisasi nilai tukar melalui berbagai instrumen di pasar domestik dan offshore, serta menjaga kecukupan likuiditas dan kelancaran mekanisme pasar.