Fakta Nasional

Lelucon Kontroversial Trump Terkait Nama 'Mohammad'

Presiden AS, Donald Trump, kembali menuai kritik setelah mengeluarkan lelucon yang menyentuh nama 'Mohammad' saat berkampanye. Pernyataan tersebut dianggap ofensif dan menyinggung umat Islam.

A
Agustinus Jaya Wiratama
18 October 2026
15 pembaca
Foto: REUTERS/Evelyn Hockstein
Foto: REUTERS/Evelyn Hockstein

Jakarta - Tindakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mencuri perhatian publik. Kali ini, ia menjadi sorotan setelah mengeluarkan lelucon mengenai popularitas nama 'Mohammad'. Lelucon tersebut disampaikan saat ia mengejek kepresidenan Iran dalam pidatonya di hadapan para pendukungnya pada kampanye pemilu sela.

Dalam pidatonya yang berlangsung di Bandara Regional Dalton, Georgia, Trump mengatakan, "Kalian tahu, jika ragu tentang nama seseorang dari Timur Tengah, panggil saja 'Mohammad'." Ia menambahkan, "Peluangnya benar sekitar 65%. 'Halo, Mohammad.' Saya sudah melakukannya bertahun-tahun. Tidak pernah salah."

Kritik Terhadap Retorika Trump

Pernyataan tersebut dilontarkan saat Trump membahas isu Iran dalam sebuah acara yang bertujuan mendukung calon-calon dari Partai Republik menjelang pemilihan umum sela pada 3 November. Dalam kesempatan itu, Trump juga berpura-pura bertanya kepada beberapa orang bernama Mohammad apakah mereka ingin menjabat sebagai presiden, namun tidak ada tanggapan dari para pendukungnya.

Trump menyatakan, "Iran adalah satu-satunya negara di mana tidak ada orang yang ingin menjadi presiden." Komentar tersebut kembali memicu kritik dari kelompok pembela hak asasi manusia dan organisasi advokasi Muslim yang menilai retorika Trump sering kali mengejek umat Islam, imigran, serta kelompok etnis minoritas.

Islamofobia dan Dampaknya

Selama masa kampanye pemilu sela, Trump semakin gencar melontarkan pernyataan yang dianggap diskriminatif, khususnya terhadap warga Amerika keturunan Somalia dan Muslim. Ia menyasar calon Senat dari Partai Demokrat yang beragama Islam, Abdul El-Sayed, serta Anggota DPR Ilhan Omar, yang merupakan politisi Demokrat asal Minnesota dan datang ke AS sebagai pengungsi dari Somalia.

Dalam laporan tahunan yang dirilis oleh Dewan Hubungan Islam Amerika (CAIR), meningkatnya Islamofobia di AS dikaitkan dengan kebijakan keras Trump terhadap imigrasi dan aksi protes pro-Palestina selama masa jabatannya yang kedua.

Artikel Terkait