Fakta Nasional

Luhut Binsar Pandjaitan: Kebanggaan Terbesar Saya Adalah Menjadi Prajurit

Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan bahwa masa lalunya sebagai tentara merupakan kepuasan terbesar dalam hidupnya. Ia menilai perjalanan kariernya yang panjang dari militer hingga politik penuh deng...

F
Fidzu Ardaf
29 September 2026
27 pembaca
Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan. (IDN Times/Uni Lubis).
Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan. (IDN Times/Uni Lubis).

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, mengungkapkan bahwa perjalanan hidupnya dari dunia militer hingga menjadi menteri di berbagai pemerintahan Indonesia adalah sebuah misteri yang penuh makna. Ia mengisahkan banyak pengalaman yang mencerminkan dedikasi, rasa syukur, dan juga tantangan yang dihadapinya.

Pada acara peresmian Galeri Jejak Langkah Luhut Binsar Pandjaitan di Sopo Del Tower pada Senin (28/9/2026), Luhut membagikan momen-momen penting dalam hidupnya. Meskipun saat ini ia dikenal sebagai politisi dan pengusaha yang sukses, kepuasan terbesarnya tetap berasal dari pengalaman sebagai tentara. "Kepuasan terhebat di hidup saya adalah menjadi tentara. Saya instruktur dalam terjun bebas, saya instruktur dalam menembak, saya instruktur dalam perang hutan dan saya membuat berbagai macam sistem yang sampai hari ini masih digunakan di Kopassus. Ya itu bikin saya ada bangga dan mengucapkan syukur pada Tuhan. Ya, saya ada kontribusi juga lah kecil-kecil di TNI," ungkapnya.

Kecintaan Sejak Dini terhadap Militer

Kecintaan Luhut terhadap dunia militer sudah muncul sejak ia kecil, saat menyaksikan operasi penumpasan PRRI/Permesta di Pekanbaru. Ia terkesan dengan kemampuan pasukan kecil yang kini dikenal sebagai Kopassus dalam mengamankan fasilitas vital. "Saya lihat RPKAD mendarat di sana, bagaimana mereka merebut Simpang Tiga lapangan terbang Pekanbaru, bagaimana mereka men-secure Caltex di Rumbai hanya dalam jumlah yang kecil. Mungkin orang membayangkan sesusah apa ini ya, tapi saya di situlah saya terus langsung pikir saya harus masuk RPKAD. Saya harus punya pasukan yang kecil," kenangnya.

Pengalaman tersebut menanamkan tekad dalam dirinya untuk bergabung dan memimpin pasukan elite tersebut. Seiring waktu, rasa bangganya semakin mendalam, terutama ketika ia diberi kesempatan untuk mereorganisasi sistem pelatihan di Kopassus yang masih diterapkan hingga kini. "Itu satu kepuasan tersendiri mungkin dalam hidup saya. Saya me-reorganisasi Kopassus dengan ada latihan spesialisasi yang dulunya kita terjun di tim-tim tidak punya itu. Nah, itu ya satu kepuasan tersendiri yang tidak bisa dibayangkan banyak orang. Ya, kalau saya cerita nanti lebih jadi sentimentil lagi mengenai itu ya," jelas Luhut.

Transisi ke Dunia Diplomasi

Karier Luhut di militer mengalami perubahan signifikan ketika Presiden ketiga RI, BJ Habibie, menugaskannya sebagai Duta Besar Indonesia untuk Singapura. Peralihan dari seorang prajurit menjadi diplomat adalah sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Kemampuan diplomatiknya mendapatkan pengakuan tinggi dari Presiden RI keempat, Abdurrahman Wahid, yang menilai Luhut terlalu berbakat untuk sekadar menjabat sebagai duta besar.

Penempatan di Singapura menjadi pengalaman berharga bagi Luhut dalam memahami kompleksitas kerja sama internasional dan negosiasi antarnegara. Di sana, ia membangun hubungan yang kuat dengan banyak pejabat tinggi Singapura yang masih terjalin hingga saat ini. "Dan Pak Gus Dur memang bilang ke saya, Pak Luhut, Pak Luhut itu overqualified untuk jadi Dubes gitu. Waktu satu pertemuan kami mau buka puasa di Jatinegara ini. Ya, tapi saya bilang saya udah diperintah ya saya akan laksanakan. Ya saya jadilah Dubes, tapi dari Dubes juga saya pikir menjadi awal dari pemahaman saya mengenai kerja sama internasional. Dan saya membangun perkawanan di sana. Sampai hari ini kami berteman. Mereka menjadi pejabat-pejabat tinggi di Pemerintahan Singapura. Karena buat saya, perkawanan itu harus dipelihara," tuturnya.

Perjalanan hidupnya kembali berbelok ketika Gus Dur menariknya kembali ke Indonesia untuk menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Meskipun awalnya menolak tawaran tersebut hingga tiga kali, Luhut akhirnya menerima tanggung jawab yang membuka jalan bagi karier politiknya. Ia menganggap Gus Dur sebagai sosok yang berperan penting dalam hidupnya dan menekankan kepada anak dan cucunya untuk selalu menghargai jasa besar Gus Dur.

"Bagaimana lah seorang prajurit profesional tiba-tiba jadi menteri? Menteri yang saya tidak paham lagi, Memperindag. Dan saya juga nolak sama Gus Dur tiga kali. Tapi saya pikir itu yang membawa saya ke dalam kancah yang lebih luas. Itu sebabnya saya bilang sama anak cucu saya, kita nggak boleh lupa sama Gus Dur dengan keluarganya," kenang Luhut.

Di balik semua pencapaian dan ketangguhannya, Luhut juga menghadapi masa-masa sulit dan rasa frustrasi. Istrinya, Devi Simatupang, berperan penting dalam membantunya melewati masa-masa tersebut. "Istri saya punya peran luar biasa. Pada titik-titik tertentu saya pernah mau menyerah. Ya karena saya frustasi juga. Manusia. Tapi istri saya yang memberikan banyak apa ya nasihat masukan dan kita berdoa. Ya itu aja banyak menyelesaikan masalah," tutup Luhut.

Artikel Terkait