Fakta Nasional

Macron Mengutuk Kekerasan dalam Aksi Protes di Prancis

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam tindakan kekerasan yang terjadi selama demonstrasi menentang biaya hidup yang tinggi di negara tersebut. Insiden ini menyebabkan banyak bentrokan antara polis...

S
Stevani Nila Wardana
19 October 2026
14 pembaca
French President Emmanuel Macron holds a news conference at the Elysee Palace, in Paris, Friday, June 13, 2025. ( AP Photo)
French President Emmanuel Macron holds a news conference at the Elysee Palace, in Paris, Friday, June 13, 2025. ( AP Photo)

Paris - Emmanuel Macron, Presiden Prancis, mengutuk kekerasan yang terjadi dalam demonstrasi menentang tingginya biaya hidup yang berlangsung di berbagai wilayah di Prancis. Bentrokan antara polisi dan demonstran, serta penjarah, terjadi dalam kerusuhan yang melanda Paris.

Menurut laporan AFP, hampir 2.400 orang ditangkap pada hari Sabtu dalam kerusuhan yang dianggap sebagai salah satu insiden kekerasan perkotaan terburuk di Prancis dalam beberapa tahun terakhir. Kementerian Dalam Negeri Prancis melaporkan bahwa hampir 1.000 anggota kepolisian dan gendarmerie mengalami luka, dengan tujuh di antaranya mengalami cedera serius.

Dalam pidato yang disampaikan kepada publik, Macron menyatakan bahwa pihak berwenang akan meningkatkan langkah-langkah keamanan dan belajar dari cara kepolisian menangani demonstrasi. Namun, ia tidak mengumumkan langkah-langkah drastis seperti pemberlakuan keadaan darurat atau jam malam.

Pernyataan Macron tentang Kekerasan

“Malam ini, kita semua merasakan kemarahan dan rasa malu,” ungkap Macron. Ia menekankan pentingnya membedakan antara demonstran yang menyampaikan “tuntutan yang sah” dengan mereka yang “menghancurkan, merusak, dan menjarah.”

Macron menambahkan, “Mereka yang melakukan perusakan harus membayar.” Ia berjanji bahwa pemerintah tidak akan memberikan toleransi terhadap “para penghasut dari kelompok sayap kiri ekstrem, yang bergabung dengan banyak pelaku kriminal” dan telah “melancarkan kekerasan tak terkendali di kota-kota kita.”

Kerusuhan Berlanjut di Kota Lain

Jurnalis AFP melaporkan bahwa polisi menggunakan gas air mata dan granat kejut terhadap ratusan orang yang berkumpul di sebuah alun-alun di Paris pada hari Minggu. Aksi tersebut berlangsung setelah adanya seruan melalui media sosial, meskipun pihak berwenang menyatakan bahwa perkumpulan tersebut tidak memiliki izin.

Sejumlah botol dan batu juga dilemparkan ke arah polisi, yang kemudian melakukan beberapa penangkapan. Beberapa toko di sekitar Place de la République menjadi sasaran penjarahan. Untuk hari kedua, polisi khusus antihuru-hara dikerahkan.

Kekerasan juga terjadi pada hari Minggu di Lyon, kota yang terletak di tenggara Prancis, di mana polisi berhasil menggagalkan upaya sejumlah pemuda yang mencoba memecahkan kaca sebuah toko pakaian mewah.

Artikel Terkait