Jakarta - Apakah Anda pernah menonton film fiksi ilmiah tentang eksplorasi luar angkasa seperti Project Hail Mary dan bertanya-tanya, "Apakah itu mungkin secara ilmiah?" Film dengan tema sains tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bahan diskusi ilmiah. Di luar negeri, penonton dapat mengeksplorasi topik kompleks, mulai dari astrofisika hingga perubahan iklim, tanpa merasa terjebak dalam suasana kelas yang membosankan. Meskipun tidak semua film menyajikan informasi yang akurat, keinginan untuk belajar sains melalui film tetap menarik perhatian. Hal ini mendorong Hildrun Walter, Fritz Treiber, dan tim dari Universitas Graz, Austria, untuk menciptakan format inovatif bernama Science & Cinema.
Diskusi Sains Melalui Pemutaran Film
Konsep di balik format ini sangat menarik dan mudah diterapkan. Para peneliti menggabungkan klip dari film-film terkenal dengan komentar dari para ahli. Misalnya, dalam sesi yang membahas perubahan iklim, penonton diajak untuk melihat cuplikan dari film The Day After Tomorrow atau Snowpiercer untuk mendiskusikan skenario zaman es, serta Mad Max untuk membahas isu kekeringan. Selama pemutaran, seorang ilmuwan berperan sebagai "detektif sains" yang menjelaskan bagian mana yang mencerminkan kenyataan ilmiah dan mana yang merupakan imajinasi sutradara. Diskusi ini dipandu oleh seorang moderator untuk menjaga suasana tetap santai, dan di akhir sesi, penonton diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan.
Hasilnya? Penonton tidak hanya terhibur, tetapi juga memperoleh pemahaman baru tentang penelitian iklim yang tengah berlangsung di dunia nyata.
Menggapai Audiens yang Lebih Luas
Salah satu tantangan utama dalam komunikasi sains adalah seringkali informasi hanya sampai kepada mereka yang sudah memiliki minat terhadap sains atau berada di lingkungan akademis. Format Science & Cinema berhasil meruntuhkan batasan tersebut. Ketika acara ini diadakan di bioskop umum sebagai bagian dari festival seni, audiens yang hadir jauh lebih bervariasi. "Di bioskop, kami bertemu dengan orang-orang yang tidak selalu termotivasi oleh isu perubahan iklim," jelas Hildrun Walter, dikutip dari Phys.org.
Menariknya, meskipun mereka bukan dari kalangan akademisi, penonton tetap merasa terinformasi dan tertarik. Format ini bahkan memicu komentar kritis dan refleksi pribadi dari penonton mengenai kebiasaan hidup mereka sehari-hari, membuktikan bahwa sains dapat menjangkau siapa saja jika disajikan dengan cara yang tepat.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya elemen emosional dalam penyampaian informasi. Acara ini dirancang dengan alur cerita yang emosional; dimulai dari momen ringan yang mengundang tawa, seperti cuplikan dari film Ice Age, hingga beralih ke adegan yang lebih dramatis dan serius seperti film The March yang membahas migrasi. Penggunaan klip film terbukti mampu mengingatkan penonton pada peristiwa nyata di dunia, misalnya, penonton mulai mengaitkan adegan migrasi dalam film dengan krisis pengungsi yang pernah terjadi di kehidupan nyata.
Hal ini memunculkan pertanyaan penting: "Di mana batas antara fiksi dan kenyataan? Apakah skenario dalam film ini benar-benar mungkin terjadi?" Dengan menyentuh aspek emosional, sains tidak lagi terasa dingin dan kaku, melainkan menjadi sesuatu yang dekat dan relevan dengan kehidupan sehari-hari kita.