Fakta Ekonomi

Pasar Karbon: Peluang Baru untuk Pendapatan Perusahaan

Perdagangan karbon kini menjadi alternatif baru bagi perusahaan untuk meningkatkan pendapatan sambil mengurangi emisi gas rumah kaca. Pemerintah berencana memperkuat ekonomi sirkular dan biru untuk me...

F
Fidzu Ardaf
21 September 2026
38 pembaca
Ilustrasi Emisi Karbon ( freepik/freepik)
Ilustrasi Emisi Karbon ( freepik/freepik)

Perusahaan kini memiliki kesempatan untuk memanfaatkan pasar karbon sebagai sumber pendapatan baru. Selain berfungsi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, pasar karbon juga menawarkan potensi bagi pelaku usaha untuk menghasilkan keuntungan. Bonn Choi, peneliti dari Korea Research Institute on Climate Change (KRIC), menjelaskan bahwa penerapan Artikel 6 dari Perjanjian Paris membuka peluang untuk mengembangkan mekanisme pasar karbon sebagai salah satu cara untuk mengurangi emisi.

Menurut Bonn, investasi dalam teknologi inovatif serta fasilitas yang rendah emisi dapat menghasilkan pengurangan emisi gas rumah kaca yang memiliki nilai ekonomi melalui mekanisme pasar karbon yang telah ditetapkan. "Pengurangan emisi dapat memberikan dua manfaat utama, yaitu mendukung pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC) sekaligus membuka peluang pendapatan baru melalui transaksi perdagangan karbon," ungkapnya saat acara di Jakarta pada Senin, 21 September 2026.

Potensi Indonesia dalam Pengurangan Emisi

Bonn menilai bahwa Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan proyek pengurangan emisi di berbagai sektor. Potensi ini mencakup sektor energi, efisiensi energi di rumah tangga, pengelolaan limbah, pertanian berkelanjutan, kehutanan, serta teknologi Carbon Capture and Storage/Carbon Capture, Utilization and Storage (CCS/CCUS). Ia menekankan bahwa pengembangan pasar karbon harus dipercepat dengan cara mengidentifikasi sektor-sektor prioritas, memperkuat regulasi, dan mengintegrasikan berbagai sumber pengurangan emisi ke dalam Emissions Trading System (ETS).

"Dengan mengidentifikasi sektor prioritas, Indonesia dapat mengarahkan investasi karbon secara terukur pada proyek-proyek yang memiliki dampak lingkungan riil, manfaat ekonomi nyata, dan kontribusi pembangunan yang lebih besar," jelasnya. Dengan pendekatan ini, upaya perusahaan dalam mengurangi emisi tidak hanya akan berkontribusi pada pencapaian target lingkungan, tetapi juga berpotensi menciptakan nilai ekonomi baru melalui transaksi perdagangan karbon.

Inovasi dan Ketahanan Pangan

ENSIA 2026 tidak hanya menjadi ajang penghargaan terhadap inovasi, tetapi juga berfungsi sebagai platform untuk berbagi pengetahuan dan perspektif dalam menerapkan inovasi guna menghadapi tantangan ekonomi, lingkungan, dan sosial. Selain pasar karbon, acara ini juga menyoroti ketahanan rantai pasok pangan sebagai salah satu dasar ketahanan nasional.

Ridky Irfan Wirautama, Asisten Deputi Logistik Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, menyatakan bahwa sektor pertanian dan pangan merupakan salah satu prioritas pemerintah. Namun, ketahanan pangan saat ini menghadapi berbagai tantangan, termasuk perubahan iklim, dinamika ekonomi global, fluktuasi harga pangan, bencana alam, kesiapan infrastruktur logistik, serta penyusutan lahan produktif. "Di tengah berbagai tantangan tersebut, inovasi menjadi salah satu solusi kunci. Transformasi pengelolaan sampah, termasuk pengolahan sampah menjadi energi listrik, menunjukkan bagaimana persoalan lingkungan dapat dialihfungsikan menjadi sumber nilai ekonomi sekaligus bagian dari solusi energi," kata Ridky.

Pemerintah juga terus berupaya memperluas penerapan ekonomi sirkular dalam sektor pangan dan memitigasi dampak dari fenomena iklim ekstrem.

suara.com Sumber: suara.com

Artikel Terkait