Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Keuangan berencana untuk menerbitkan surat utang panda bond di China pada kuartal IV tahun 2026. Kementerian ini menargetkan pengumpulan dana sekitar 10 miliar yuan, yang setara dengan 1,5 miliar dolar AS dari penerbitan tersebut. Rencana ini muncul setelah suksesnya penjualan perdana panda bond pada bulan Juli yang lalu, yang menawarkan biaya yang lebih rendah.
Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Suminto, mengungkapkan pada Kamis (22/10/2026) bahwa pihaknya optimis dapat meraih sekitar 10 miliar yuan dari penjualan surat utang negara tersebut. Sebelumnya, pemerintah berhasil mengumpulkan 7 miliar yuan dari penerbitan panda bond di era Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. "Kami masih punya ruang untuk menawarkan surat utang bermata uang asing di Kuartal IV, tergantung pada kondisi pasar. Panda bond menjadi pertimbangan karena debut di Juli lalu sukses," jelas Suminto.
Rencana Penerbitan dan Biaya yang Lebih Murah
Suminto menambahkan bahwa Kementerian Keuangan berencana untuk menerbitkan panda bond ini pada bulan November atau awal Desember. "Biaya dana panda bond relatif lebih murah dan pasar keuangan China juga lebih stabil," ungkapnya. Sebelumnya, pada bulan Juli, Kementerian Keuangan telah menerbitkan panda bond untuk pertama kalinya, dengan total penerbitan mencapai CNY7 miliar atau sekitar Rp 18,5 triliun.
Detail Penerbitan dan Respons Investor
DJPPR menjelaskan bahwa panda bond tersebut diterbitkan dalam dua seri tenor, yaitu RICNY0729 dan RICNY0731. Seri RICNY0729 memiliki tenor tiga tahun dengan tanggal jatuh tempo pada 30 Juli 2029, dengan nominal penerbitan mencapai CNY5,6 miliar (setara Rp 14,8 triliun) dan yield kupon sebesar 1,90 persen. Sementara itu, seri RICNY0731 memiliki tenor lima tahun dan jatuh tempo pada 30 Juli 2031, dengan nominal penerbitan mencapai CNY1,4 miliar (setara Rp 3,7 triliun) dan yield kupon sebesar 2,19 persen.
Pemerintah juga mengklaim bahwa transaksi panda bond perdana tersebut mendapat sambutan positif dari investor di China, dengan total peak orderbook mencapai sekitar CNY17,0 miliar (setara Rp 45 triliun) atau bid-to-cover ratio sebesar 2,4 kali.