Fakta Ekonomi

Pemerintah Luncurkan SBN Ritel dengan Imbal Hasil Menarik

Pemerintah kembali memperkenalkan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel melalui Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015, menawarkan imbal hasil minimum hingga 6,85 persen per tahun. Masyarakat dapat membeli...

P
Panca Akbar Saputra
06 October 2026
26 pembaca
Foto: dok Bjb
Foto: dok Bjb

Pemerintah Indonesia mengumumkan penawaran terbaru untuk Surat Berharga Negara (SBN) Ritel melalui Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015, yang memberikan imbal hasil minimum mencapai 6,85 persen per tahun. Masyarakat dapat mengakses produk investasi ini melalui aplikasi wondr by BNI selama masa penawaran berlangsung.

Detail Penawaran SBR015

SBR015 hadir dalam dua pilihan tenor, yaitu SBR015T2 yang menawarkan imbal hasil minimum 6,75 persen per tahun dengan tenor dua tahun, dan SBR015T4 dengan imbal hasil minimum 6,85 persen per tahun untuk tenor empat tahun. SBR015T2 akan jatuh tempo pada 10 Oktober 2028, sedangkan SBR015T4 akan jatuh tempo pada 10 Oktober 2030.

Program Cashback Menarik

Selain imbal hasil yang menarik, BNI juga memberikan cashback hingga Rp15 juta bagi nasabah yang membeli SBR015 melalui aplikasi wondr by BNI dengan sumber dana fresh fund. Program cashback ini berlaku sesuai dengan nilai pembelian dan ketentuan yang ditetapkan oleh BNI, terbagi menjadi dua periode. Periode Early Bird berlangsung dari 28 September hingga 9 Oktober 2026, sedangkan periode Non-Early Bird berlangsung dari 10 hingga 22 Oktober 2026.

Steven Suryana, SEVP Wealth Management BNI, menyatakan bahwa SBR015 dapat menjadi pilihan bagi masyarakat untuk membangun portofolio investasi melalui instrumen yang diterbitkan oleh pemerintah. “Melalui wondr by BNI, kami ingin memberikan akses investasi yang semakin mudah dan praktis bagi masyarakat. Kehadiran SBR015 juga menjadi kesempatan bagi nasabah untuk membangun portofolio melalui instrumen investasi yang diterbitkan oleh pemerintah,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

SBR015 menggunakan skema imbal hasil mengambang dengan batas minimum, yang memungkinkan tingkat imbal hasil menyesuaikan dengan perkembangan suku bunga acuan, namun tidak akan turun di bawah tingkat minimum yang telah ditetapkan.

Artikel Terkait