Jakarta - Penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang semakin meluas ternyata berpotensi menciptakan kesenjangan digital. Peneliti komunikasi dari Hong Kong Baptist University, Profesor Sai Wang, bersama timnya, telah menganalisis data penggunaan AI oleh lebih dari 10.000 warga Amerika. Hasil analisis menunjukkan bahwa individu dengan tingkat pendidikan dan pendapatan yang lebih tinggi cenderung lebih sadar dan akrab dengan AI, serta lebih mungkin menggunakannya dibandingkan mereka yang berasal dari latar belakang sosial ekonomi yang lebih rendah.
Para peneliti mendefinisikan kesadaran AI sebagai pengetahuan mengenai penggunaan teknologi dalam berbagai konteks, sedangkan familiaritas dengan AI berkaitan dengan persepsi individu tentang teknologi tersebut, meskipun pemahaman mereka tentang AI mungkin tidak mendalam. Kesenjangan dalam pemanfaatan AI ini dapat memberikan keuntungan bagi sebagian kelompok, sementara yang lain tertinggal.
Profesor Wang menekankan pentingnya menutup kesenjangan kesadaran AI, karena jika hanya orang-orang dengan pendapatan atau pendidikan yang lebih tinggi yang menyadari dan menggunakan AI, hal ini dapat memperkuat ketidaksetaraan sosial. Contohnya, pelamar kerja yang menyadari bahwa perusahaan menggunakan AI untuk menyaring lamaran dapat menyesuaikan resume mereka, sedangkan mereka yang tidak memiliki pengetahuan ini bisa kehilangan peluang tanpa menyadarinya.
Selain memberdayakan individu, AI juga membawa risiko. Mereka yang lebih sadar akan AI mungkin lebih mampu memahami peluang dan risiko yang ditawarkannya, termasuk dalam mengenali dan membuat deepfake. Sebaliknya, individu dengan kesadaran AI yang rendah lebih rentan terhadap penipuan atau manipulasi oleh teknologi tersebut.
Dalam studi ini, Wang dan rekan-rekannya menganalisis data survei yang mencakup pemahaman dan sikap terhadap AI, yang dikumpulkan dari 10.087 orang dewasa di Amerika Serikat oleh American Trends Panel yang dilakukan oleh Pew Research Center. Status sosial ekonomi responden dinilai berdasarkan pendidikan dan pendapatan rumah tangga.
Studi sebelumnya menunjukkan bahwa individu yang lebih kaya dan berpendidikan lebih termotivasi untuk menggunakan alat AI, yang pada gilirannya meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam menggunakan teknologi tersebut. Temuan ini membantu menjelaskan mengapa pendidikan dan pendapatan menjadi prediktor signifikan dalam penggunaan AI.
Menariknya, penelitian ini juga menemukan bahwa familiaritas dengan AI menjadi indikator kesadaran yang lebih kuat dibandingkan dengan penggunaan AI itu sendiri. Banyak aplikasi yang telah mengintegrasikan AI secara mulus sehingga pengguna tidak menyadari keberadaan teknologi ini. Contohnya, sistem rekomendasi berbasis AI di platform streaming seperti Netflix atau Spotify yang menyarankan konten sesuai selera pengguna, namun banyak yang tidak menyadari bahwa ini didukung oleh AI.
Wang menjelaskan bahwa ketidaksetaraan digital tradisional berfokus pada akses, keterampilan, dan hasil, yang mengasumsikan bahwa pengguna terlibat secara sadar dengan teknologi. Namun, AI sering kali terintegrasi ke dalam aplikasi sehari-hari tanpa disadari, sehingga banyak orang berinteraksi dengan AI tanpa menyadarinya.
Oleh karena itu, meningkatkan akses ke teknologi berbasis AI saja tidak cukup untuk menutup kesenjangan kesadaran ini. Para peneliti merekomendasikan pendekatan yang lebih tidak langsung untuk mengurangi ketidaksetaraan digital, seperti kampanye penyuluhan dan lokakarya komunitas yang menggunakan bahasa yang jelas dan contoh praktis untuk menjelaskan AI kepada masyarakat berstatus sosial ekonomi rendah.
Tim peneliti berharap sumber daya yang ada dapat meningkatkan keterlibatan dengan isu-isu terkait AI, mengatasi kekhawatiran publik, dan memberikan panduan tentang penggunaan AI yang etis dan bertanggung jawab. Mereka juga menyarankan agar konsep dasar AI diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan.
Program literasi AI diharapkan mencakup panduan untuk mengidentifikasi AI yang tersembunyi dalam kehidupan sehari-hari dan memahami fungsi dasarnya. Peneliti menekankan pentingnya menciptakan masa depan digital yang lebih inklusif, di mana teknologi memberdayakan semua orang dan tidak meminggirkan kelompok tertentu.
Namun, para peneliti juga memperingatkan bahwa karena penelitian ini berfokus di AS, belum jelas seberapa umum temuan ini dapat diterapkan di negara lain, di mana tingkat adopsi dan kesadaran AI mungkin berbeda. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa individu dari Korea Selatan, Tiongkok, dan Finlandia memiliki kesadaran AI yang lebih tinggi, sementara Belanda memiliki kesadaran rata-rata terendah.
Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Information, Communication & Society dengan judul "Socioeconomic disparities in AI awareness: examining the mediating roles of AI usage and familiarity". Dengan selesainya studi ini, tim peneliti berencana untuk mengeksplorasi lebih lanjut bagaimana ketidaksetaraan digital muncul dalam konteks AI dan dampaknya bagi masyarakat.