Jakarta - Rektor Universitas Indonesia (UI) Prof Heri Hermansyah mengungkapkan kebanggaan terhadap program studi sosial humaniora yang dimiliki oleh UI. Saat ini, terdapat empat program studi dari UI yang masuk dalam peringkat 100 besar dunia, di mana tiga di antaranya berasal dari bidang sosial humaniora.
"Kalau kita lihat di dalam ranking yang ada, di Universitas Indonesia. Justru yang dalam ranking 100 besar dunia, itu ada empat program studi saat ini, tiga di antaranya sosial humaniora. Yang masuk 100 besar itu adalah tadi, Antropologi terus, Hukum, terus, (Manajemen) Informasi Perpustakaan, terus satu lagi Dentistry, Kedokteran Gigi," urai Heri saat berbincang di kantornya, Kampus UI, Depok, Jawa Barat.
Data yang disampaikan Heri tersebut berasal dari QS World University Rankings (WUR) by Subject 2026. Melalui akun Instagram resmi UI @univ_indonesia, terungkap bahwa program studi yang masuk dalam 100 besar dunia versi QS WUR by Subject 2026 adalah Hukum, Antropologi, Manajemen Informasi Perpustakaan, dan Kedokteran Gigi.
Heri menekankan bahwa ilmu sosial humaniora sangat diperlukan, meskipun seringkali profesi di bidang ini tidak selalu linier dengan jurusan studi. "Dan sebenarnya ilmu sosial humaniora ini sangat diperlukan walaupun pas lapangan kerjanya tidak tidak sama persis dengan nama program studinya. Kan jurusan sosiologi, nggak ada nama pekerjaannya sosiologi kan. Tetapi, mereka yang memiliki kompetensi sosiologi ini akan sangat diperlukan di berbagai bidang kerja yang memerlukan dukungan dari orang-orang yang multidisiplin kan," jelasnya.
Heri juga memberikan contoh, ketika ada pembukaan pusat pertambangan, meskipun bisnis intinya memerlukan orang teknik, tetapi yang berhubungan dengan manusia dan masyarakat biasanya memerlukan lulusan dari bidang sosial humaniora. "Bahkan di perusahaan tambang sekalipun, itu tidak 100% orang tambang kan. Di situ, di core business, lapangannya mungkin orang tambang, orang mesin, orang metalurgi, orang elektro, orang proses kimia misalnya gitu. Tapi kan selain itu kan ada yang ngurusin legalnya, ada yang ngurusin HRD-nya, ada yang ngurusin keuangannya. Kemudian ada yang ngurusin bagaimana hubungan antarlembaga, ada yang ngurusin CSR perusahaan dengan masyarakat sekitar. Nah di situlah dibutuhkan orang-orang yang tadi sosiologi, kesejahteraan sosial, psikologi, dan sebagainya," tambah Heri.
Sebelumnya, rencana penutupan program studi ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek Badri Munir Sukoco, yang mengharapkan perguruan tinggi dapat menyeleksi program studi yang perlu ditutup untuk menekan kesenjangan antara lulusan perguruan tinggi dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto juga mengungkapkan pentingnya evaluasi dan pembaruan pada program studi di perguruan tinggi agar tetap relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terbaru.
Dengan pencapaian ini, Universitas Indonesia menunjukkan komitmennya dalam menyediakan pendidikan yang berkualitas dan relevan dengan kebutuhan pasar kerja di masa depan.