Fakta Nasional

Penemuan Besar Mineral di Madinah, Arab Saudi

Arab Saudi mengumumkan penemuan signifikan berupa 110 juta ton mineral tanah jarang dan biji uranium di Madinah, yang diungkapkan oleh Menteri Energi Saudi dalam sebuah konferensi internasional.

W
Wira Yudha
16 September 2026
40 pembaca
Foto: Ilustrasi uranium (via Reuters)
Foto: Ilustrasi uranium (via Reuters)

Arab Saudi baru-baru ini mengumumkan penemuan sumber energi baru yang sangat signifikan di wilayahnya. Pemerintah Saudi mengungkapkan bahwa terdapat sekitar 110 juta ton mineral tanah jarang dan biji uranium yang ditemukan di kawasan Madinah. Informasi ini disampaikan oleh Menteri Energi Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman, dalam Konferensi Umum Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang berlangsung di Wina, Austria, baru-baru ini.

Detail Penemuan di Jabal Sayid

Pangeran Abdulaziz menjelaskan bahwa hasil studi eksplorasi dan geologi di proyek Jabal Sayid, yang terletak sekitar 350 kilometer di timur laut Jeddah, menunjukkan adanya perkiraan sumber daya sekitar 110 juta ton bijih dengan konsentrasi tinggi mineral tanah jarang, khususnya unsur-unsur berat, serta uranium dengan konsentrasi yang menjanjikan. "Studi eksplorasi dan geologi di proyek Jabal Sayid di Madinah, telah mengungkap perkiraan sumber daya sekitar 110 juta ton bijih dengan konsentrasi tinggi mineral tanah jarang, khususnya unsur-unsur berat, serta konsentrasi uranium yang menjanjikan," ungkap Pangeran Abdulaziz dalam konferensi tersebut.

Potensi dan Manfaat bagi Saudi

Menurut analisis dari Center for Strategic and International Studies, yang mengutip estimasi dari Kementerian Perindustrian dan Mineral Saudi serta perusahaan tambang negara Maaden, Jabal Sayid diperkirakan menyimpan 552.000 ton logam tanah jarang berat, seperti disprosium dan terbium, serta 355.000 ton logam tanah jarang ringan, seperti neodimium dan praseodimium. Selain itu, analisis tersebut juga mencatat adanya kandungan sekitar 31.000 ton uranium di lokasi tersebut. Kombinasi ini memberikan posisi yang unik bagi Saudi untuk mengembangkan siklus bahan bakar nuklirnya sendiri dan berpotensi mengekspor material tersebut ke Amerika Serikat.

Pangeran Abdulaziz menegaskan bahwa Saudi berkomitmen untuk memanfaatkan sumber daya energi dan mineral yang beragam. Dia menambahkan bahwa diversifikasi sumber daya energi ini sangat penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan keamanan pasokan. Pangeran Abdulaziz juga menekankan bahwa Saudi telah memperkuat posisinya sebagai mitra aktif di pasar energi.

Pengumuman ini datang beberapa bulan setelah Saudi dan Amerika Serikat meresmikan kerja sama nuklir sipil antara kedua negara, yang ditandai dengan penandatanganan kesepakatan antara Pangeran Abdulaziz dan Menteri Energi AS, Chris Wright, pada 22 Juli lalu. Departemen Energi AS menyatakan bahwa kesepakatan ini memberikan dasar hukum bagi kemitraan bernilai miliaran dolar yang akan berlangsung selama beberapa dekade, serta memberikan akses yang lebih luas bagi perusahaan-perusahaan AS terhadap program energi nuklir sipil di Saudi.

Artikel Terkait