Hutan Amazon, yang merupakan hutan tropis terluas di dunia, selama ini dikenal sebagai salah satu penyerap karbon terpenting di planet ini. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, hutan ini malah mengeluarkan lebih banyak karbon dioksida (CO₂) ke atmosfer dibandingkan dengan yang diserap. Kekeringan yang disebabkan oleh fenomena El Nino sering kali disalahkan, tetapi penelitian terbaru mengungkapkan bahwa aktivitas manusia memiliki peranan besar dalam kerusakan ini. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature berjudul Amazon carbon emissions driven by human actions amplified by droughts menunjukkan bahwa selama 15 tahun terakhir, Amazon melepaskan sekitar 1,3 miliar ton karbon dioksida lebih banyak setiap tahunnya dibandingkan dengan jumlah yang diserap, dengan kebakaran sebagai penyebab utama emisi tersebut.
Menariknya, pada dua tahun terakhir yang mengalami kekeringan, hanya sekitar 1% kebakaran yang disebabkan oleh petir. Luciana Gatti, seorang ilmuwan iklim di Institut Nasional Penelitian Antariksa Brasil (INPE), menyatakan bahwa aktivitas manusia merupakan pendorong utama hilangnya fungsi Amazon sebagai penyerap karbon. Ia menegaskan, "Pesan utama penelitian ini mengejutkan (yakni) masalah di Amazon adalah aktivitas manusia. Kita kehilangan hutan karena model pembangunan di kawasan ini didasarkan pada perusakan."
Metode Penelitian untuk Mengukur Karbon
Tumbuhan menyerap karbon dioksida melalui proses fotosintesis saat tumbuh, tetapi karbon yang tersimpan dapat kembali ke atmosfer ketika tumbuhan membusuk atau terbakar. Amazon menyimpan sekitar 136 miliar ton karbon di dalam pepohonan dan tanahnya. Untuk mengukur keseimbangan karbon di hutan tersebut, tim Gatti mengambil sampel udara di empat lokasi di Amazon. Pengukuran dilakukan menggunakan pesawat kecil yang terbang dua kali sebulan dari tahun 2010 hingga 2024. Dalam setiap penerbangan, pesawat menurunkan ketinggian secara melingkar dari sekitar 14.400 kaki (4.389 meter) hingga 1.000 kaki (305 meter), dengan sampel udara diambil pada 12 ketinggian berbeda.
Selama 15 tahun, tim melakukan total 1.017 kali penurunan untuk pengambilan sampel tersebut. Setiap sampel kemudian dianalisis untuk mengukur kadar karbon dioksida dan karbon monoksida, dengan gas karbon monoksida digunakan sebagai penanda karena dihasilkan oleh kebakaran. Dengan membandingkan kedua gas tersebut, peneliti dapat memperkirakan emisi karbon dioksida dari kebakaran dan membedakannya dari karbon yang diserap atau dilepaskan oleh hutan. Udara bersih dari Samudra Atlantik, berdasarkan pengukuran Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA), digunakan sebagai acuan pembanding.
Analisis Periode Emisi Karbon
Para peneliti membagi periode pengamatan menjadi tiga kelompok berdasarkan kondisi cuaca dan tingkat kerusakan hutan. Kelompok pertama mencakup enam tahun basah dengan pembukaan lahan dan kebakaran yang relatif rendah, yaitu 2011-2014, 2017, dan 2018. Pada periode ini, hutan yang tumbuh menyerap sekitar 64% karbon yang dilepaskan oleh kebakaran, sehingga neraca karbon Amazon relatif seimbang.
Namun, situasinya berubah pada tahun 2019-2022. Meskipun kondisi cuaca tergolong normal, dengan suhu yang sebanding dengan tahun-tahun basah dan curah hujan hanya sekitar 6% lebih rendah, laju deforestasi tahunan meningkat 97% dibandingkan periode basah. Emisi karbon dari Amazon pun hampir empat kali lipat dibandingkan rata-rata tahun basah. Peneliti menyimpulkan bahwa peningkatan emisi ini lebih berkaitan dengan aktivitas manusia, terutama pembukaan dan degradasi hutan.
Kelompok ketiga terdiri dari tahun-tahun panas dan kering, yaitu 2010, 2015, 2016, 2023, dan 2024. Pada periode ini, fenomena El Nino mengurangi curah hujan dan meningkatkan suhu. Curah hujan pada kelompok tahun ini 13% lebih rendah dibandingkan tahun-tahun basah, sedangkan luas lahan yang terbakar meningkat 92%. Emisi karbon mencapai puncaknya di antara ketiga kelompok, sedikit melampaui periode 2019-2022, menunjukkan bahwa meskipun kekeringan memperparah kebakaran dan emisi, aktivitas manusia tetap menjadi faktor utama.
Untuk periode 2023 dan 2024, peneliti mencocokkan data sambaran petir dengan kebakaran yang terdeteksi dalam rentang waktu tiga hari dan jarak sekitar 1,1 kilometer. Hasilnya menunjukkan bahwa sambaran petir hanya berhubungan dengan sekitar 1,6% kejadian awal kebakaran pada 2023 dan 1% pada 2024, menguatkan dugaan bahwa sebagian besar kebakaran bukan disebabkan oleh petir. Tahun 2024 tercatat sebagai periode terburuk dengan emisi karbon dioksida mencapai sekitar 3,3 miliar ton, atau tujuh kali rata-rata emisi pada tahun-tahun basah.
Tren Perubahan Iklim di Amazon
Data cuaca selama 46 tahun, dari 1979 hingga 2024, menunjukkan bahwa curah hujan tahunan di Amazon mengalami penurunan sekitar 6,9 inci atau 17,5 sentimeter, setara dengan sekitar 8%. Penurunan curah hujan ini lebih signifikan terjadi pada puncak musim kemarau, yaitu Agustus hingga Oktober, di mana curah hujan berkurang sekitar 20%. Sementara itu, suhu rata-rata tahunan Amazon meningkat sekitar 2 derajat Fahrenheit (1,13 derajat Celsius), dengan kenaikan mencapai 3,3 derajat Fahrenheit (1,81 derajat Celsius) pada musim kemarau.
Wilayah tenggara Amazon mengalami pemanasan paling signifikan dan menjadi lokasi sekitar 62% pembukaan hutan sejak 2018. Tim Gatti mengaitkan perubahan ini dengan deforestasi, di mana pepohonan mengembalikan kelembapan ke atmosfer melalui proses evapotranspirasi. Diperkirakan, hingga separuh hujan di Amazon berasal dari air yang didaur ulang oleh hutan itu sendiri. Ketika jumlah pohon berkurang, kelembapan yang dilepaskan ke atmosfer juga menurun, menyebabkan curah hujan berkurang, musim kemarau memanjang, dan hutan menjadi lebih rentan terhadap kebakaran. "Hal ini memberikan tekanan yang sangat besar terhadap hutan yang masih tersisa," ujar Gatti.