Fakta Pendidikan

Mahasiswa Serbia Berhasil Menggulingkan Pemimpin yang Berkuasa Selama 14 Tahun

Gerakan mahasiswa di Serbia berhasil menumbangkan Aleksandar Vučić, pemimpin yang telah berkuasa selama 14 tahun, setelah melalui protes yang berlangsung hampir dua tahun.

D
Dila Rakasiwi
27 October 2026
6 pembaca
Foto: REUTERS/Djordje Kostic/Rakyat Serbia merayakan secara besar-besaran kekalahan pemimpin mereka, Aleksandar Vucic, dalam pemilu mendadak yang dipicu oleh unjuk rasa mahasiswa, Minggu (25/10/2026).
Foto: REUTERS/Djordje Kostic/Rakyat Serbia merayakan secara besar-besaran kekalahan pemimpin mereka, Aleksandar Vucic, dalam pemilu mendadak yang dipicu oleh unjuk rasa mahasiswa, Minggu (25/10/2026).

Gerakan mahasiswa di Serbia mencatatkan kemenangan besar ketika mereka berhasil mengalahkan Aleksandar Vučić, yang telah memimpin selama 14 tahun. Kemenangan ini terjadi setelah pemilihan parlemen pada Minggu (25/10/2026), di mana Vučić resmi kalah setelah hampir dua tahun protes yang dilakukan oleh mahasiswa.

Awal Mula Gerakan Mahasiswa

Menurut laporan Al Jazeera, gerakan ini dimulai setelah tragedi yang menewaskan 16 orang akibat runtuhnya kanopi di stasiun kereta api Novi Sad pada 1 November 2024. Kejadian tersebut dianggap sebagai simbol korupsi dalam pemerintahan. Insiden ini memicu kritik luas terhadap pemerintahan Vučić yang dianggap lalai dan korup. Mahasiswa mulai turun ke jalan untuk menuntut transparansi, akses dokumen proyek stasiun, serta pertanggungjawaban hukum bagi pejabat yang terlibat.

Awalnya, Vučić menganggap para demonstran sebagai "pemblokir" dan menuduh mereka berusaha merusak stabilitas negara. Namun, ketegangan semakin meningkat, dan pada 2025, terjadi protes antipemerintah terbesar dalam sejarah Serbia. Pada Januari 2025, perdana menteri saat itu mengundurkan diri untuk meredakan situasi, tetapi gerakan mahasiswa terus berlanjut dan mengorganisir diri melalui pleno mahasiswa.

Puncak Kemenangan dan Masa Depan Gerakan

Gerakan ini semakin meluas hingga melibatkan berbagai lapisan masyarakat, termasuk profesor, dokter, petani, aktor, dan hakim, dengan jumlah pengunjuk rasa diperkirakan mencapai 180.000 hingga 190.000 orang. Pada pemilihan parlemen, lebih dari 150.000 orang turun ke jalan di Beograd, ibu kota Serbia, menandai kemenangan gerakan mahasiswa atas pemerintahan yang dianggap korup.

Ilmuwan politik Dusko Radosavljevic menyatakan, "Para mahasiswa hanya menyuarakan kemarahan warga yang beralasan." Ia menambahkan bahwa dekade terakhir ditandai dengan tekanan sistematis terhadap lembaga sosial dan pengawasan yang berlebihan terhadap lawan politik.

Setelah kemenangan ini, meskipun gerakan mahasiswa tidak memiliki pemimpin yang jelas, mereka berhasil menarik perhatian pemilih anti-pemerintah. Mereka mengajukan kandidat untuk 250 kursi parlemen, meskipun tidak ada mahasiswa di antara mereka. Salah satu kandidat adalah Ilija Srdanović, seorang profesor kardiologi, dan Dejan Šoškić, mantan gubernur Bank Nasional Serbia, yang dikenal vokal mengenai reformasi ekonomi.

Mahasiswa berkomitmen untuk terus menekan pemerintah baru agar menindaklanjuti manifesto mereka, dengan fokus pada peningkatan standar hidup, utang publik, dan kinerja ekonomi. Sesuai konstitusi Serbia, kandidat mahasiswa memiliki waktu 90 hari untuk membentuk pemerintahan setelah hasil pemilihan diumumkan. Untuk mengatasi korupsi, diperlukan reformasi di kepolisian, dinas intelijen, dan sistem peradilan.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait