Ampela ayam dikenal memiliki kandungan protein dan zat besi yang cukup tinggi, dengan sekitar 30,4 gram protein dan 3,2 miligram zat besi per 100 gram. Meskipun demikian, ampela termasuk dalam kategori jeroan yang mengandung purin tinggi serta kolesterol. Oleh karena itu, nilai gizi yang dimiliki bukanlah alasan untuk mengonsumsinya secara berlebihan.
Ahli gizi menyarankan agar ampela ayam dijadikan sebagai lauk variasi dan tidak dikonsumsi setiap hari dalam porsi besar. Ampela sering diolah menjadi berbagai hidangan seperti tumisan, sate, soto, sambal goreng, dan lauk rumahan lainnya. Rasanya yang familiar dan harga yang terjangkau menjadikannya pilihan yang populer. Namun, berapa banyak ampela yang sebaiknya dikonsumsi?
Kandungan Gizi Ampela Ayam
Muhammad Aries, SP, MSi, dosen dari IPB University, menjelaskan bahwa meskipun ampela termasuk jeroan, ia tetap memiliki nilai gizi yang baik, terutama dalam hal protein dan mineral. Ampela relatif tinggi protein dan rendah lemak dibandingkan dengan banyak jeroan lainnya. “Ampela ayam dapat dikategorikan sebagai pangan bergizi tinggi. Dalam 100 gram ampela ayam matang, terdapat sekitar 30,4 gram protein, 3,2 miligram zat besi, 1 mikrogram vitamin B12, dan 4,4 miligram zink,” ungkap Aries.
Protein berfungsi untuk membangun dan memperbaiki jaringan tubuh, sementara zat besi berperan dalam pembentukan sel darah merah. Penelitian mengenai komposisi berbagai produk sampingan ayam menunjukkan bahwa ampela dan hati adalah bagian dengan kandungan protein tertinggi di antara sampel yang diteliti. Namun, kandungan zat gizi dapat bervariasi tergantung pada sampel dan metode pengolahannya.
Pertimbangan Konsumsi Ampela Ayam
Walaupun memiliki nilai gizi yang baik, ampela juga mengandung kolesterol yang cukup tinggi. Menurut Aries, 100 gram ampela matang mengandung sekitar 370 miligram kolesterol. “Ampela mengandung kolesterol cukup tinggi, sehingga konteks keseluruhan pola makan lebih penting daripada menilai satu bahan makanan secara terpisah,” jelasnya.
Kadar kolesterol pada satu jenis makanan tidak secara otomatis menentukan apakah makanan tersebut baik atau buruk bagi kesehatan. Yang lebih penting adalah pola makan secara keseluruhan. Berdasarkan panduan American Heart Association tahun 2026, kolesterol dari makanan tidak lagi menjadi fokus utama yang dinilai secara terpisah untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.
Selain itu, ampela juga mengandung purin yang tinggi. Bagi individu yang menderita gout atau memiliki kadar asam urat tinggi, penting untuk memperhatikan kandungan purin dalam makanan. Pasien gout disarankan untuk membatasi asupan purin. Untuk orang yang sehat, disarankan agar ampela dijadikan lauk selingan dan tidak dikonsumsi setiap hari atau dalam porsi besar. Jika memiliki gout, kolesterol tinggi, atau penyakit jantung, penting untuk mempertimbangkan kondisi kesehatan pribadi dan berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi mengenai pola makan yang tepat.
“Ampela tidak perlu dihindari sepenuhnya oleh orang sehat. Namun, karena kombinasi kolesterol tinggi dan statusnya sebagai jeroan kaya purin, ampela lebih tepat diposisikan sebagai lauk variasi, bukan makanan harian atau lauk dalam porsi besar,” saran Aries. Ia juga merekomendasikan agar ampela direbus, dipanggang, atau ditumis dengan sedikit minyak, serta disajikan bersama sayuran atau sumber serat lainnya, sambil membatasi tambahan garam, minyak berlebih, dan santan kental.
Untuk memastikan keamanan pangan, jeroan unggas harus dimasak hingga suhu bagian dalam mencapai 74 derajat Celcius.