Fakta Ekonomi

Penerapan Nilai Alquran dalam Kebijakan Ekonomi Ditekankan oleh Menko Perekonomian

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan pentingnya penerapan nilai-nilai Alquran dalam kebijakan ekonomi untuk mencapai pertumbuhan yang adil dan bermanfaat bagi mas...

P
Padma Dewi
24 September 2026
38 pembaca
Foto: Dian Fath Risalah/Republika
Foto: Dian Fath Risalah/Republika

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menekankan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran seharusnya diintegrasikan ke dalam kebijakan ekonomi. Hal ini bertujuan agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya berfokus pada angka, tetapi juga menciptakan keadilan dan manfaat yang nyata bagi masyarakat.

Pentingnya Prinsip Keadilan dan Keseimbangan

Airlangga menyampaikan pandangannya saat memberikan orasi ilmiah dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana dan Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta pada Rabu, 23 September 2026. Ia menyatakan, “Alquran sebagai pedoman hidup telah memberikan asas-asas fundamental dalam tata kelola perekonomian, yaitu prinsip keadilan (adl) dan keseimbangan (mizan).” Menurutnya, penerapan kedua prinsip ini menjadi sangat penting, terutama di tengah ketidakpastian yang melanda ekonomi global.

Untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan, diperlukan sumber daya manusia yang mampu menerapkan prinsip-prinsip tersebut dalam kebijakan dan kehidupan sehari-hari. Airlangga juga mencatat adanya perbaikan dalam sejumlah indikator sosial, seperti penurunan tingkat kemiskinan yang mencapai 8,07 persen pada Maret 2026 dan rasio Gini yang berada di angka 0,368. Tingkat pengangguran terbuka juga tercatat sebesar 4,65 persen.

Program Perlindungan Sosial dan Akses Keuangan

Dibandingkan dengan Maret 2025, jumlah penduduk miskin berkurang sekitar 926 ribu orang. Pemerintah berkomitmen untuk melanjutkan perbaikan ini dengan kebijakan yang memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara merata. Untuk menjaga daya beli dan melindungi masyarakat, pemerintah telah menyiapkan 28 program perlindungan sosial yang mencakup berbagai kelompok usia. Di antaranya adalah Program Indonesia Pintar untuk 22 juta siswa, Program Keluarga Harapan bagi 10 juta keluarga penerima manfaat, serta Makan Bergizi Gratis yang ditargetkan untuk 74 juta penerima.

Airlangga juga menyoroti pentingnya memperluas akses keuangan bagi masyarakat. Tingkat inklusi keuangan di Indonesia telah mencapai 93,61 persen dengan tingkat literasi keuangan sebesar 69,57 persen. Dalam sektor syariah, aset keuangan syariah Indonesia telah mencapai sekitar Rp 3.131 triliun. Selain itu, Indonesia juga menduduki peringkat pertama dunia dalam industri modest fashion untuk Muslim.

Dalam sektor industri halal, sebanyak 4,4 juta sertifikat halal telah diterbitkan bagi 3,4 juta pelaku usaha yang mencakup 14,68 juta produk. Indonesia juga telah menjalin pengaturan pengakuan timbal balik untuk produk halal dengan 39 negara.

Airlangga menekankan bahwa pembangunan ekonomi memerlukan sumber daya manusia yang mampu mengikuti perkembangan teknologi. Ia mendorong para wisudawan untuk menjadi pemecah masalah dan inovator, serta menguasai teknologi dan literasi digital. “Saya ingin menitipkan tiga pesan utama kepada para wisudawan S1, S2, dan S3 PTIQ Jakarta. Pertama, jadilah problem solver dan inovator, bawa nilai-nilai Qurani ke dalam ruang-ruang kebijakan. Kedua, kuasai teknologi dan literasi digital, jangan gagap terhadap perkembangan zaman seperti Artificial Intelligence (AI) dan perkembangan teknologi lainnya,” ujar Airlangga.

Artikel Terkait