Nilai transaksi derivatif aset keuangan digital di Indonesia tercatat mencapai Rp4,56 triliun pada bulan Agustus 2026, mengalami kenaikan sebesar 33,76 persen dibandingkan bulan Juli 2026 yang hanya mencapai Rp3,41 triliun. Lonjakan dalam aktivitas perdagangan ini perlu diimbangi dengan pemahaman yang baik mengenai risiko penggunaan leverage serta potensi likuidasi dalam transaksi berjangka atau futures kripto.
Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa transaksi derivatif aset keuangan digital mengalami pertumbuhan bulanan, meskipun pergerakannya tetap dipengaruhi oleh kondisi pasar. Peningkatan ini terjadi di tengah situasi perdagangan derivatif kripto global yang mengalami penurunan volume pada semester pertama 2026.
Perdagangan Derivatif dan Risiko yang Menyertainya
Laporan dari CoinGlass mencatat bahwa volume perdagangan derivatif kripto global mencapai sekitar 85,7 triliun dolar AS sepanjang tahun 2025. Namun, pada semester pertama 2026, volume transaksi tercatat sebesar 35,08 triliun dolar AS, turun 15,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ryan Lymn, Direktur Operasional Bittime, menyatakan bahwa perkembangan dalam perdagangan derivatif kripto harus disertai dengan pemahaman mengenai karakteristik instrumen serta risiko yang ada. Pengguna disarankan untuk mempertimbangkan strategi perdagangan sebelum mengambil posisi di pasar.
“Perdagangan derivatif menjadi bagian dari ekosistem aset digital global. Namun, pengguna perlu memahami mekanisme produk, potensi keuntungan, dan risiko yang menyertainya. Keputusan perdagangan sebaiknya didasarkan pada strategi yang matang, bukan sekadar mengikuti momentum pasar,” ujar Ryan dalam keterangan tertulis.
Dalam perdagangan futures, pelaku pasar dapat mengambil posisi long jika memperkirakan harga aset akan naik, atau posisi short jika memperkirakan harga akan turun. Namun, kedua strategi ini tetap memiliki risiko kerugian akibat pergerakan harga yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Salah satu risiko utama dalam perdagangan derivatif adalah penggunaan leverage, yang memungkinkan pelaku pasar membuka posisi dengan nilai lebih besar dibandingkan modal atau margin yang disediakan. Penggunaan leverage dapat memperbesar potensi keuntungan, namun juga meningkatkan risiko kerugian.
Pentingnya Memahami Leverage dan Margin
Risiko likuidasi juga dapat terjadi jika ekuitas akun tidak memenuhi persyaratan margin yang ditetapkan. Dalam kondisi seperti ini, posisi perdagangan dapat ditutup secara otomatis sesuai dengan mekanisme yang berlaku. Commodity Futures Trading Commission (CFTC) juga mengingatkan bahwa penggunaan leverage dapat memperbesar dampak pergerakan harga terhadap posisi perdagangan. Oleh karena itu, pemahaman mengenai mekanisme margin dan potensi likuidasi menjadi aspek penting sebelum melakukan transaksi.
“Trader perlu memahami cara kerja leverage, persyaratan margin, dan kondisi yang dapat memicu likuidasi. Menentukan batas risiko sebelum membuka posisi merupakan langkah penting agar keputusan perdagangan lebih terukur,” kata Ryan.
Ryan menambahkan bahwa pengelolaan risiko dapat dilakukan dengan menetapkan batas kerugian, memilih tingkat leverage yang sesuai dengan toleransi risiko, serta menyiapkan strategi keluar dari posisi perdagangan. Meskipun langkah-langkah ini tidak menghilangkan risiko, mereka dapat membantu pelaku pasar menjaga disiplin dalam bertransaksi.
Seiring dengan perkembangan pasar derivatif, beberapa platform perdagangan aset digital juga menawarkan pilihan instrumen dengan karakteristik risiko yang berbeda. Bittime, misalnya, menyediakan layanan perdagangan spot, staking, dan futures dalam ekosistemnya. Untuk perdagangan futures, Bittime menawarkan 49 pasangan perdagangan dengan pilihan posisi long dan short, serta fasilitas leverage hingga 25 kali. Platform ini juga menyediakan dua mekanisme pengelolaan margin, yaitu Cross Margin dan Isolated Margin.
Ryan menekankan bahwa ketersediaan berbagai instrumen perdagangan harus disertai dengan pemahaman pengguna mengenai cara kerja masing-masing produk. Pemilihan strategi juga harus mempertimbangkan kemampuan untuk menanggung kerugian serta perubahan kondisi pasar. “Melalui layanan Spot, Staking, dan Futures, kami menyediakan pilihan layanan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Khusus Futures, kami mendorong pengguna untuk memahami mekanisme produk dan menyiapkan strategi manajemen risiko sebelum bertransaksi. Fleksibilitas dalam mengambil posisi perlu berjalan seiring dengan disiplin dan tanggung jawab,” ujar Ryan.
Dengan meningkatnya aktivitas transaksi derivatif aset digital, literasi mengenai risiko perdagangan menjadi semakin penting. Pemahaman tentang penggunaan leverage, persyaratan margin, dan mekanisme likuidasi diperlukan agar keputusan transaksi dapat diambil berdasarkan pertimbangan risiko yang terukur.