Fakta Ekonomi

Pentingnya Keamanan Siber dalam Adopsi AI di Sektor Manufaktur

Adopsi kecerdasan buatan di industri manufaktur harus diimbangi dengan penguatan keamanan siber untuk mengantisipasi risiko yang mungkin muncul. Hal ini disampaikan oleh Ketua WANTRII dalam konferensi...

W
Wira Yudha
14 October 2026
15 pembaca
Foto: dok istimewa
Foto: dok istimewa

Adopsi kecerdasan buatan (AI) dalam sektor manufaktur perlu disertai dengan langkah-langkah untuk memperkuat keamanan siber. Meskipun teknologi ini menawarkan peluang untuk meningkatkan produktivitas, risiko serangan siber juga harus diwaspadai sejak awal proses transformasi digital. Fadli Hamsani, Ketua Dewan Transformasi Digital Industri Indonesia (WANTRII), mengungkapkan bahwa transformasi industri tidak hanya sekadar mengukur penggunaan teknologi, tetapi juga memastikan bahwa teknologi yang diterapkan memberikan dampak positif terhadap produktivitas dan daya saing, serta mengurangi risiko yang menyertainya.

Transformasi yang Berkelanjutan

Dalam pernyataannya saat Indonesia 4.0 Conference & Expo 2026 di Jakarta, Fadli menekankan pentingnya untuk tidak hanya bertanya apakah suatu industri telah menggunakan AI, tetapi lebih kepada dampak yang dihasilkan dan bagaimana cara mitigasi risiko yang ada. Ia menambahkan bahwa penguatan transformasi industri harus dilakukan melalui tiga aspek utama: sumber daya manusia, proses bisnis, dan teknologi. Dalam hal sumber daya manusia, peningkatan kompetensi melalui pelatihan dan pendampingan sangat diperlukan agar pekerja dapat memanfaatkan teknologi dengan efektif.

Penerapan Teknologi dan Praktik Terbaik

Dari segi proses, pelaku industri diharapkan dapat berbagi praktik terbaik dalam penerapan teknologi. Sementara itu, perusahaan perlu melakukan evaluasi terhadap sejauh mana pemanfaatan teknologi berpengaruh terhadap operasional dan produktivitas. Fadli juga mencatat bahwa sejak diluncurkannya peta jalan Making Indonesia 4.0 pada tahun 2018, lebih dari 1.300 perusahaan telah menjalani penilaian kesiapan melalui Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0). Kementerian Perindustrian juga telah menetapkan 29 national lighthouse yang diharapkan dapat menjadi model dalam penerapan transformasi industri.

Walaupun demikian, Fadli menilai bahwa penerapan AI di Indonesia masih berada di tahap awal, terutama di tingkat perusahaan. Ia mengutip data dari McKinsey yang menunjukkan bahwa sekitar 85 persen adopsi AI secara global digunakan untuk mendukung pekerjaan manusia, sedangkan di tingkat perusahaan, pemanfaatannya hanya sekitar 30 persen. Oleh karena itu, WANTRII dan pihak terkait berupaya untuk menyusun pedoman etika AI serta panduan keamanan siber untuk membantu perusahaan dalam menerapkan teknologi secara lebih aman.

Dalam konteks keamanan siber, Muhammad Neil El Himam, Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif, menjelaskan bahwa AI memiliki tiga peran penting yang perlu dipahami: sebagai teknologi yang meningkatkan produktivitas, sebagai alat bagi pelaku kejahatan, dan sebagai target serangan. Neil menegaskan bahwa meskipun AI dapat meningkatkan efisiensi kerja, teknologi ini juga dapat digunakan untuk melancarkan serangan siber dengan lebih cepat dan efisien. “Jadi sekarang permasalahannya adalah bagaimana kita meningkatkan kesadaran dari sisi sumber daya manusia supaya pada saat kita menggunakan AI, kita juga memitigasi risiko dari AI,” ujar Neil.

Neil juga menyoroti pentingnya meningkatkan kesadaran pengguna mengenai risiko yang ada, mengingat serangan yang memanfaatkan AI dapat menyamar sebagai komunikasi yang tampak meyakinkan. Untuk itu, perlu dilakukan penguatan kapasitas dan literasi bersama pelaku industri dan pemerintah agar pengguna dapat mengenali potensi ancaman dan mengambil langkah pencegahan yang tepat.

Albertus Rachmad Wibowo, Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) RI, menekankan pentingnya menjadikan keamanan siber sebagai fondasi dalam transformasi digital agar kepercayaan terhadap ekosistem industri nasional tetap terjaga. Selain itu, pemerintah juga mendorong penguatan ekosistem perusahaan teknologi lokal. Neil menambahkan bahwa dukungan terhadap industri AI lokal tidak hanya melalui inkubasi, tetapi juga perlu mencakup akselerasi usaha dan fasilitasi pertemuan bisnis.

Dalam konteks media, Neil mengingatkan bahwa penggunaan konten jurnalistik oleh mesin pencari berbasis AI berpotensi mengurangi kunjungan ke situs berita dan berdampak pada monetisasi. Sementara itu, Deng Genxian, Vice President PT RJGF International Indonesia, menyatakan bahwa perkembangan AI dan teknologi digital memberikan peluang bagi industri manufaktur untuk meningkatkan efisiensi operasional dan daya saing. Ia menilai kolaborasi antara penyedia teknologi dan pelaku industri sangat penting untuk mempercepat transformasi tersebut.

Melalui partisipasi dalam Indonesia 4.0 Conference & Expo 2026, pihaknya berharap dapat bertukar wawasan, menjajaki peluang kerja sama, dan berkontribusi dalam pengembangan ekosistem manufaktur Indonesia. Dalam acara ini, WANTRII dan PT RJGF International Indonesia juga dijadwalkan untuk menandatangani nota kesepahaman guna memperkuat kolaborasi dalam ekosistem industri dan transformasi digital di Indonesia.

Diskusi mengenai adopsi AI, transformasi digital, dan keamanan siber menjadi bagian penting dari Indonesia 4.0 Conference & Expo 2026 yang berlangsung pada 13–14 Oktober 2026 di Jakarta, yang mempertemukan pelaku industri manufaktur, penyedia solusi teknologi, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya untuk membahas penerapan teknologi di sektor industri.

Artikel Terkait