Fakta Nasional

Penurunan Polusi Udara di Jakarta, Dampak Modifikasi Cuaca Masih Diteliti

Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta melaporkan adanya penurunan konsentrasi polutan di Jakarta pada akhir pekan lalu, dengan pengaruh modifikasi cuaca yang masih dalam kajian.

F
Fidzu Ardaf
25 October 2026
17 pembaca
Ilustrasi Polusi Udara Jakarta. (IDN Times/Chaesya Pricilla)
Ilustrasi Polusi Udara Jakarta. (IDN Times/Chaesya Pricilla)

Jakarta, IDN Times - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta melalui Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU) mencatat bahwa pada Sabtu (24/10) pagi, terjadi penurunan konsentrasi polutan seperti PM2,5, PM10, dan sulfur dioksida (SO2), terutama antara pukul 04.00 hingga 07.00 WIB. "Pemantauan SPKU menunjukkan kecenderungan penurunan konsentrasi polutan di lima wilayah Jakarta pada Sabtu pagi," ungkap Kepala DLH DKI Jakarta, Dudi Gardesi dalam keterangan resminya, Minggu (25/10/2026).

Di wilayah Jakarta Selatan, konsentrasi PM2,5 tercatat turun ke kisaran 12–32 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 04.00–05.00 WIB, yang berada di bawah ambang batas mutu 55 µg/m³. Sementara itu, kawasan pesisir Jakarta Utara mencatat penurunan PM2,5 hingga 9–17 µg/m³ dalam rentang waktu yang sama. Penurunan serupa juga terlihat di Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Jakarta Pusat, di mana konsentrasi PM2,5 dan PM10 di Jakarta Pusat berada dalam kisaran 12–43 µg/m³ pada pagi hari.

Penyebab Penurunan Kualitas Udara

DLH DKI Jakarta menjelaskan bahwa penurunan konsentrasi polutan dapat dipengaruhi oleh kondisi meteorologi, aktivitas sumber emisi lokal, serta kemungkinan dampak dari operasi modifikasi cuaca (OMC). Hujan yang dihasilkan melalui modifikasi cuaca berpotensi membantu mengurangi jumlah partikulat di atmosfer melalui proses deposisi basah. "Namun, diperlukan analisis lanjutan untuk memastikan besarnya pengaruh masing-masing faktor dan keberlanjutan perbaikan kualitas udara," kata Dudi.

Operasi Modifikasi Cuaca dan Penyemprotan Air

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Marulitua Sijabat, menyampaikan bahwa OMC dilaksanakan untuk memaksimalkan potensi hujan dan menciptakan kondisi yang lebih nyaman bagi masyarakat. "Kami terus memantau perkembangan cuaca bersama BMKG agar pelaksanaan OMC dapat dilakukan secara tepat sasaran," ucap Marulitua.

Berdasarkan laporan BPBD, OMC telah dilakukan melalui empat sorti penerbangan pada 21–23 Oktober menggunakan pesawat PK-SNH dengan bahan semai natrium klorida (NaCl). Penyemaian berlangsung di kawasan Bogor, Depok, Bekasi, dan Jakarta Selatan. Operasi ini diiringi dengan hujan dengan intensitas bervariasi di beberapa wilayah sekitar Jakarta. Pada Jumat (23/10), hujan ringan hingga sedang tercatat di Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Depok, Bogor, dan Tangerang Selatan.

Selain OMC, Pemprov DKI Jakarta juga melaksanakan penyemprotan kabut air (water mist) di sejumlah ruas jalan yang menjadi lintasan JRF 2026. Kegiatan ini dilakukan oleh Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan bersama Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI untuk membantu menyejukkan lingkungan dan meningkatkan kenyamanan pelari.

Pada Minggu pagi, kualitas udara di Jakarta tercatat dalam kategori sedang, menurut laman IQAir, dengan pembaruan pada pukul 06.00 WIB. IQAir mencatat kualitas udara Jakarta berada pada poin 79 dengan konsentrasi polutan PM2,5 sebesar 24 mikrogram per meter kubik, yang 4,8 kali lebih tinggi dari nilai panduan kualitas udara tahunan yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Panduan kesehatan untuk kondisi ini merekomendasikan agar kelompok sensitif mengurangi aktivitas di luar ruangan dan mengenakan masker, serta menutup jendela untuk mencegah masuknya udara kotor dan menyalakan pemurni udara.

Artikel Terkait