Iran telah mengeluarkan peringatan terbaru kepada Amerika Serikat, menegaskan bahwa jika terjadi babak baru perang, hal itu akan menjadi bencana bagi AS. Pernyataan ini disampaikan oleh Mohsen Rezaei, penasihat senior pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.
Rezaei, yang juga mantan Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), menyatakan bahwa agresi terhadap Iran akan berujung pada konsekuensi serius bagi AS. Ia mengungkapkan, "Sejarah akan mencatat bahwa bangsa Iran menenggelamkan kekuatan adidaya Amerika di Teluk Persia dan Laut Oman." Ia juga memperingatkan bahwa jika AS melanjutkan tindakan militer, ada kemungkinan kapal-kapal mereka akan ditenggelamkan dan tentara mereka akan terbunuh.
Lebih lanjut, Rezaei yang merupakan anggota Dewan Penentu Kebijakan Iran, menegaskan bahwa AS seharusnya bersiap untuk kemungkinan penawanan sejumlah besar pasukan mereka jika terjadi agresi baru. Ia juga menyampaikan "opsi paling hemat biaya" bagi AS, yaitu menerima sepuluh syarat yang diajukan Iran untuk mengakhiri konflik, termasuk penghentian agresi dan pencabutan sanksi ilegal.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menolak proposal Iran yang menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan syarat pencabutan blokade laut AS. Trump menegaskan bahwa blokade akan tetap berlaku hingga tercapainya kesepakatan nuklir antara Washington dan Teheran.
Proposal Iran juga mencakup penundaan perundingan nuklir hingga setelah Selat Hormuz dibuka. Meskipun Trump melihat blokade laut sebagai alat tawar-menawar, sejumlah sumber menyebutkan bahwa Komando Pusat AS (CENTCOM) sedang mempersiapkan rencana serangan udara untuk mengatasi kebuntuan diplomatik, meskipun Trump belum mengizinkan tindakan militer terhadap Iran.
Dengan situasi yang terus berkembang, ketegangan antara Iran dan AS diperkirakan akan berlanjut, dan dampaknya terhadap stabilitas regional masih harus dilihat.