Fakta Nasional

Perselisihan Warga di Depok Terkait Pembakaran Sampah dan Penutupan Akses Jalan

Warga di Jatijajar, Tapos, Kota Depok, terlibat konflik terkait pembakaran sampah yang berujung pada penutupan akses jalan oleh warga RT. Mediasi telah dilakukan oleh pihak kepolisian untuk meredakan...

E
Eko Prasetyo
13 October 2026
21 pembaca
Warga klaster dan warga RT Tapos, Kota Depok, berselisih karena masalah pembakaran sampah. Hingga warga RT mendirikan tembok untuk menutup akses warga perumahan. (Dok. Istimewa)
Warga klaster dan warga RT Tapos, Kota Depok, berselisih karena masalah pembakaran sampah. Hingga warga RT mendirikan tembok untuk menutup akses warga perumahan. (Dok. Istimewa)

Kota Depok - Terjadi perselisihan antara warga klaster dan warga RT di Jatijajar, Tapos, Kota Depok, yang dipicu oleh masalah pembakaran sampah. Ketegangan ini semakin meningkat ketika warga RT mendirikan tembok untuk menutup akses jalan bagi penghuni perumahan.

Kasi Humas Polres Metro Depok, AKP Hendra Kurniawan, menjelaskan bahwa konflik ini bermula dari ketidakpuasan warga RT 7 berinisial S dan penghuni Perumahan Zenitparc Cimanggis berinisial A mengenai asap yang berasal dari pembakaran sampah. Pada Selasa (29/9/2026), warga RT 7 membakar sampah di kebunnya, dan asapnya menyebar hingga mengganggu penghuni perumahan tersebut.

"Penghuni Perumahan Zenitparc Cimanggis atas nama Bapak A merasa terganggu dengan asap pembakaran sampah tersebut," ungkap AKP Hendra pada Selasa (13/10).

Reaksi di Media Sosial

Warga perumahan kemudian mengunggah masalah tersebut ke media sosial, yang dianggap oleh warga RT 7 sebagai tindakan yang menyudutkan mereka. Unggahan ini memicu respons dari Tim Maung Kota Depok, yang melakukan pengecekan dan menemukan bahwa pembakaran sampah tersebut hanya terjadi pada saat itu.

Akibat unggahan di media sosial, keluarga Bapak S merasa tidak nyaman dan meminta Bapak A untuk menghapus video yang telah diposting.

Penutupan Akses Jalan dan Mediasi

Pihak penghuni Perumahan Zenitparc Cimanggis menolak untuk menghapus unggahan tersebut, yang menyebabkan kekecewaan di kalangan warga RT. Sebagai bentuk protes, mereka memagar jalan akses menuju perumahan tersebut. Perselisihan yang awalnya bersifat individu ini kemudian meluas menjadi konflik antara kelompok warga klaster dan warga luar klaster.

Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, terlihat ketegangan antara warga klaster dan warga RT ketika akses jalan ditutup. Meskipun demikian, keributan tersebut berhasil diredam oleh warga yang tetap tenang di lokasi.

Pihak kepolisian kemudian melakukan mediasi antara kedua belah pihak pada Minggu (11/10) siang. Namun, mediasi tersebut tidak menghasilkan kesepakatan karena salah satu pihak tidak hadir. Pada pukul 17.00 WIB, A kembali ke perumahan dan mendapati akses jalan dipagar, sehingga kendaraan miliknya terhalang.

"Sehingga menghambat aktivitas dan menyulitkan warga RT 07 yang hendak melintas. Kejadian tersebut memicu kemarahan dan emosi warga," jelasnya.

Polisi kembali melakukan mediasi, dan akhirnya kedua pihak sepakat untuk berdamai dan membuka kembali pagar yang telah dipasang.

"Sudah selesai mediasi semalam dan diselesaikan damai. Sudah dibuka kembali (pagarnya)," tuturnya.

Artikel Terkait