Fakta Nasional

Pertumbuhan Luas Daratan Gunung Anak Krakatau Pasca Erupsi

Gunung Anak Krakatau mengalami pertumbuhan luas daratan yang signifikan, melampaui ukuran sebelum erupsi dan kolaps pada Desember 2018. Pemantauan terbaru menunjukkan bahwa luas daratan gunung kini me...

W
Wira Yudha
27 September 2026
38 pembaca
Gunung Anak Krakatau saat erupsi beberapa waktu lalu (Foto: PVMBG/Handout via REUTERS)
Gunung Anak Krakatau saat erupsi beberapa waktu lalu (Foto: PVMBG/Handout via REUTERS)

Gunung Anak Krakatau menunjukkan pertumbuhan yang mencolok. Saat ini, luas daratan gunung ini telah melebihi ukuran sebelum terjadinya erupsi dan kolaps pada bulan Desember 2018. Menurut citra dari Sentinel yang diambil pada 8 Agustus 2026, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat bahwa luas daratan gunung yang terletak di Selat Sunda ini mencapai sekitar 312,3 hektare.

Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi yang berlangsung terus-menerus pada 4 hingga 6 September 2026. Proses akumulasi material dari erupsi yang berkelanjutan telah menyebabkan daratan gunung ini pulih dan bertambah luas. Berdasarkan pemantauan citra satelit Sentinel pada 15 September, luas daratan Gunung Anak Krakatau tercatat sekitar 341,5 hektare, dengan tambahan endapan material seluas 32,8 hektare setelah erupsi awal September 2026.

Sejarah Erupsi dan Dampaknya

Gunung Anak Krakatau sebelumnya mengalami erupsi dan longsoran pada 22 Desember 2018, yang menyebabkan gelombang tsunami di daerah Banten dan Lampung. Sebelum peristiwa tersebut, tepatnya pada 19 Desember 2018, luas daratan gunung ini mencapai 300 hektare. Namun, setelah mengalami erupsi dan longsoran, luas daratan berkurang secara signifikan.

"Bencana keruntuhan sektor barat daya tersebut sempat memangkas drastis daratan gunung menjadi tersisa 246,18 hektare per 26 Desember 2018," kata Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM, Rita Susilawati.

Fase Rekonstruksi dan Penelitian Terkait

Pertumbuhan yang pesat pada luas daratan ini sejalan dengan hasil penelitian kolaboratif yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama beberapa universitas internasional. Penelitian ini mengonfirmasi bahwa Gunung Anak Krakatau saat ini sedang berada dalam fase rekonstruksi. Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dini Nurfiani, menjelaskan bahwa gunung api adalah sistem geologi dinamis yang mengalami siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali.

Dini menambahkan bahwa sejarah erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung ini berkembang melalui siklus yang kompleks. Setelah kolaps pada 2018, morfologi dan gaya erupsi mengalami perubahan drastis, diikuti oleh fase pertumbuhan kembali melalui erupsi dan pembentukan lava baru.

Peristiwa runtuhnya sektor barat daya pada 22 Desember 2018 memuntahkan material sekitar 0,116 kilometer kubik ke laut, mengurangi ketinggian puncak dari 330 meter menjadi 120 meter, dan memicu tsunami di Selat Sunda. Sejak 2019 hingga 2026, aktivitas erupsi bertransisi kembali ke tipe Strombolian, dengan lava fountain dan lelehan lava baru yang terus menambah volume daratan gunung.

Namun, tim peneliti BRIN mencatat bahwa pertumbuhan Anak Krakatau tidak berlangsung secara simetris. Sektor barat daya tumbuh di atas lereng kaldera bawah laut yang curam, sementara bagian timur laut berada di dasar laut yang lebih dangkal. Struktur fisik gunung yang terdiri dari penumpukan lava padat dan berat di atas endapan tuf ringan berpori, serta perbedaan kecuraman lereng, menjadi faktor utama yang memengaruhi kestabilan lereng Anak Krakatau dalam jangka panjang.

"Catatan erupsi Anak Krakatau memperlihatkan bahwa perilaku gunung api tidak selalu tetap, tetapi dapat berubah mengikuti perkembangan tubuh gunung, sistem magma, dan kondisi lingkungannya," tutup Dini.

Artikel Terkait