Fakta Ekonomi

Perubahan Pola Konsumsi Masyarakat Indonesia dan Dampaknya pada Bisnis

Pola belanja masyarakat Indonesia mengalami perubahan signifikan, dengan peningkatan belanja melalui platform digital dan rekomendasi kreator. Data menunjukkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang t...

F
Fidzu Ardaf
12 October 2026
25 pembaca
Ilustrasi belanja online Tokopedia TikTok Shop. [Tokopedia]
Ilustrasi belanja online Tokopedia TikTok Shop. [Tokopedia]

Konsumsi rumah tangga di Indonesia menunjukkan pertumbuhan di atas 5%, namun pola belanja masyarakat mengalami pergeseran yang signifikan. Pada kuartal pertama tahun 2026, pesanan dari affiliate creator di TikTok Shop meningkat hingga 170%. Perubahan ini membuka peluang baru bagi perdagangan berbasis konten atau discovery commerce.

Pergeseran pola konsumsi ini mempengaruhi cara pelaku usaha dalam memasarkan produk. Masyarakat kini tidak hanya bergantung pada toko fisik, tetapi juga semakin memanfaatkan marketplace, rekomendasi dari kreator, serta konten video yang mempengaruhi keputusan pembelian. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa meskipun konsumsi rumah tangga tumbuh di atas 5% pada semester pertama tahun 2026, fokus belanja masyarakat kini beralih ke sektor transportasi, restoran, hotel, pariwisata, dan transaksi elektronik.

Pernyataan BPS dan Tren Konsumsi

Kepala BPS, Amalia Adininggar, menyatakan bahwa perubahan ini mencerminkan pergeseran gaya hidup dan cara masyarakat berbelanja, dari transaksi langsung menjadi transaksi digital. “Daya beli masyarakat di Indonesia ini berdasarkan catatan BPS itu memang masih kuat karena selama satu semester itu masih tumbuh di atas 5% untuk konsumsi masyarakat,” ungkap Amalia di Jakarta.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Drajad Hari Wibowo, juga mencatat adanya peningkatan konsumsi di sektor perjalanan dan pariwisata. Selain itu, transaksi yang menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) mengalami kenaikan lebih dari 100%. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen kini lebih terbuka terhadap metode pembayaran digital.

Tren di TikTok Shop dan Brand Lokal

Data dari TikTok Shop menunjukkan bahwa pada kuartal pertama tahun 2026, pesanan melalui affiliate creator mengalami lonjakan 170% dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, pesanan yang berasal dari video pendek tumbuh 135%, dan pesanan dari fitur LIVE Shopping meningkat sebesar 59%.

Salah satu merek yang berhasil memanfaatkan tren ini adalah Momami, yang merupakan brand perawatan anak asal Indonesia. Melalui platform Tokopedia dan TikTok Shop, Momami mencatat pertumbuhan bisnis lebih dari dua kali lipat secara tahunan, didukung oleh ribuan video dari affiliate creator setiap bulannya. Marketing Manager Momami, Albert Tee, mengungkapkan bahwa konten kreator sangat membantu konsumen dalam memahami manfaat dan cara penggunaan produk sebelum melakukan pembelian. Fitur LIVE Shopping juga memberikan kesempatan bagi calon pembeli untuk bertanya langsung.

Didirikan pada tahun 2019 di bawah PT Multitrend Indo Tbk, bagian dari Kanmo Group, Momami awalnya fokus pada penjualan tisu basah sebelum memperluas jangkauan produk ke sampo, sabun mandi bayi, tabir surya, dan losion antinyamuk. Selama bulan Ramadan, Momami mencatat pertumbuhan penjualan sekitar 30%, didorong oleh meningkatnya permintaan untuk tabir surya dan losion antinyamuk menjelang mudik Lebaran.

Momami juga terpilih sebagai brand lokal pertama dalam program perdana #BeliLokal Brand Day yang diselenggarakan oleh Tokopedia dan TikTok Shop di Bandung pada tanggal 3 Oktober 2026. Senior Director Tokopedia dan TikTok Shop Indonesia, Vonny Ernita Susamto, menyatakan bahwa integrasi konten, kreator, promosi, dan perdagangan digital diharapkan dapat membantu brand lokal dalam memperluas jangkauan pasar dan membangun hubungan yang lebih baik dengan konsumen.

suara.com Sumber: suara.com

Artikel Terkait