Fakta Ekonomi

Prabowo Tegaskan Indonesia Tak Takut Hadapi MSCI

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia tidak gentar menghadapi tantangan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) di tengah sorotan pasar modal nasional. Ia menekankan kekuatan d...

A
Agustinus Jaya Wiratama
21 October 2026
20 pembaca
Foto: Republika/Prayogi
Foto: Republika/Prayogi

Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa Morgan Stanley Capital International (MSCI) merupakan salah satu tantangan yang dihadapi oleh Indonesia. Dalam pernyataannya, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tidak akan takut dan tidak gentar menghadapi penyedia indeks global tersebut, terutama di tengah perhatian yang meningkat terhadap pasar modal nasional. “Kesulitan kita masih banyak. Gangguan masih banyak. Kita terus dihadang. Ada apa itu? Macem-macem lah. MSCI, macem-macem. Dia mau takut-takuti kita,” ungkap Prabowo di Jakarta pada Rabu (21/10/2026).

Kekuatan dan Keberanian Indonesia

Prabowo menegaskan bahwa Indonesia memiliki kekuatan dan keberanian untuk menghadapi berbagai tantangan yang ada. Ia juga menambahkan bahwa bangsa Indonesia tidak mengenal kata menyerah. “Saya hanya katakan kepada MSCI bangsa Indonesia tidak takut siapapun dan tidak akan gentar. Kita tidak takut. Kita punya kekuatan,” tegasnya.

Pernyataan ini muncul di tengah evaluasi MSCI terhadap pasar saham Indonesia, yang menimbulkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap kepercayaan investor serta pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa Indonesia tidak bergantung pada satu penyedia indeks atau pemeringkat. Ia menjelaskan bahwa MSCI bukanlah satu-satunya acuan, karena ada penyedia indeks lain seperti FTSE Russell. “Kita sih confident saja dengan tata kelola yang sedang disiapkan. Dan Indonesia tidak tergantung hanya pada satu rating,” kata Airlangga.

Fundamental Ekonomi yang Solid

Airlangga juga menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid. Ia menyebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,45 persen, inflasi berada di kisaran tiga persen, dan cadangan devisa cukup kuat untuk membiayai sekitar lima bulan impor. Di sisi lain, Fitch Ratings menilai bahwa dampak dari potensi reklasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI terhadap profil kredit nasional akan bergantung pada kepercayaan investor serta kondisi pendanaan domestik dan eksternal. Fitch menyatakan bahwa potensi reklasifikasi tersebut kemungkinan tidak akan memberikan dampak material secara langsung terhadap profil kredit Indonesia. Namun, tekanan yang berkepanjangan terhadap kepercayaan investor dapat memperketat kondisi keuangan.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai bahwa tekanan jual saham oleh investor asing merupakan peringatan bagi pemerintah untuk memberikan respons yang substantif terhadap evaluasi MSCI. Menurut Bhima, investor belum melihat adanya perubahan signifikan dari sikap pemerintah dalam menangani masalah tata kelola pasar modal. Ia mengingatkan bahwa respons pemerintah yang cenderung menyangkal masalah justru berisiko memperburuk kepercayaan investor. “Padahal yang diminta adalah perubahan substantif dari sisi penegakan aturan main manipulasi saham, aturan free float, dan independensi BEI,” ungkap Bhima.

Bhima juga menyoroti pernyataan Presiden Prabowo yang menyebutkan bahwa masyarakat desa tidak terlibat dalam pasar saham. Ia berpendapat bahwa pernyataan tersebut dapat melemahkan kredibilitas kebijakan di mata investor. Ia memperkirakan bahwa tekanan terhadap pasar saham masih akan berlanjut dalam sepekan ke depan, dengan penjualan bersih investor asing sejak Januari 2026 telah mencapai Rp 88,1 triliun.

Artikel Terkait