Fakta Ekonomi

Proyeksi Harga Emas Minggu Depan: Potensi Penurunan hingga Rp 2,39 Juta per Gram

Harga emas dan logam mulia diperkirakan akan terus mengalami penurunan pada minggu depan, dengan kisaran harga yang mungkin mencapai Rp 2,39 juta per gram.

D
Dila Rakasiwi
25 October 2026
14 pembaca
Foto: Republika/Prayogi
Foto: Republika/Prayogi

Harga emas dan logam mulia diprediksi akan melanjutkan tren penurunan pada minggu mendatang. Diperkirakan, pergerakan logam mulia ini akan berada dalam rentang Rp 2,39 juta hingga Rp 2,69 juta per gram. Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat mata uang dan komoditas, menjelaskan bahwa pada akhir perdagangan pekan ini, harga emas di pasar internasional tercatat sebesar 3.997 dolar AS per troy ounce. Jika terjadi koreksi, level dukungan pertama untuk harga emas dunia diperkirakan berada di angka 3.951 dolar AS per troy ounce.

Proyeksi Harga Emas dan Logam Mulia

“Kemudian dalam satu minggu apabila terkoreksi, itu di 3.884 dolar AS per troy ounce. Ini kemungkinan kalau kena, menjadi yang terendah dibandingkan 2025–2026,” ungkap Ibrahim dalam keterangan kepada wartawan pada Ahad (25/10/2026). Sementara itu, jika harga emas mengalami penguatan, level resistensi pertama berada di 4.053 dolar AS per troy ounce. Dalam sepekan ke depan, jika harga menguat, pergerakannya bisa mencapai 4.138 dolar AS per troy ounce.

Di sisi lain, harga logam mulia pada akhir pekan ini ditutup di posisi Rp 2,525 juta per gram. Ibrahim memperkirakan, jika terjadi koreksi, harga logam mulia akan bergerak menuju Rp 2,505 juta per gram. Dalam minggu depan, jika mengalami penurunan, harganya bisa turun hingga Rp 2,39 juta per gram. Namun, jika mengalami penguatan, level resistensi pertama untuk logam mulia diperkirakan berada di Rp 2,545 juta per gram, dengan potensi mencapai Rp 2,69 juta per gram jika menguat.

Faktor Pengaruh Harga Emas dan Indeks Dolar

“Jadi, harga emas dunia pada minggu depan kemungkinan akan ditransaksikan di antara 3.884 dolar AS hingga 4.138 dolar AS per troy ounce. Sementara itu, logam mulia diperkirakan akan ditransaksikan di kisaran Rp 2,39 juta hingga Rp 2,69 juta per gram,” jelasnya lebih lanjut. Ibrahim juga memprediksi bahwa indeks dolar AS pada perdagangan pekan depan akan bergerak di kisaran 100,90 hingga 103,10, menunjukkan bahwa pada akhir Oktober 2026, indeks dolar AS masih akan terus menguat.

Untuk harga minyak mentah dunia, Ibrahim memperkirakan harga WTI crude oil akan mengalami penguatan, berkisar antara 96,90 hingga 108,30 dolar AS per barel, sedangkan harga Brent diperkirakan akan berada di atas 115 dolar AS per barel. Di sisi lain, nilai tukar rupiah diprediksi akan melemah seiring dengan penguatan indeks dolar AS dan kenaikan harga minyak mentah, dengan estimasi mencapai Rp 18.200 per dolar AS.

“Apa yang menyebabkan fluktuasi harga emas dunia, logam mulia, rupiah, minyak mentah, dan indeks dolar? Salah satu faktornya adalah geopolitik,” tuturnya. Ibrahim menjelaskan bahwa situasi geopolitik di Eropa Timur semakin memanas, dengan Ukraina yang kini memiliki persenjataan canggih yang dapat menyamai kekuatan Rusia. Ia memperkirakan bahwa konflik ini tidak akan berakhir sebelum ada tanda-tanda kesepakatan damai. Di Timur Tengah, ketegangan juga masih tinggi, dengan Iran yang semakin agresif terhadap kapal-kapal bisnis di Selat Hormuz jika AS melakukan serangan.

“Artinya, kemungkinan besar akan terjadi perang besar, perang darat antara Iran dan AS, tinggal menunggu waktu saja, karena di perbatasan Iran dengan Oman sudah menumpuk pasukan yang cukup besar, ribuan pasukan,” jelasnya.

Artikel Terkait