PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatatkan pertumbuhan yang signifikan dalam pendapatan dan laba bersih selama paruh pertama tahun ini. Phintraco Sekuritas memperkirakan bahwa pendapatan BUMI akan mencapai 1,62 miliar dolar AS pada tahun fiskal 2026 mendatang. Perusahaan ini juga berupaya memperluas portofolio bisnisnya dengan mengakuisisi saham Loyal Metals, yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada sektor batu bara.
Pada paruh pertama tahun ini, BUMI mengalami lonjakan kinerja keuangan yang didorong oleh peningkatan volume produksi batu bara dan akselerasi diversifikasi ke sektor mineral strategis. Dalam laporan riset yang dirilis pada Minggu (25/10/2026), Phintraco Sekuritas mencatat bahwa pendapatan BUMI meningkat 27,2 persen secara tahunan menjadi 858 juta dolar AS, yang memenuhi 51 persen dari total estimasi pendapatan untuk FY26F. Selain itu, laba bersih perusahaan melonjak 188,4 persen menjadi 59 juta dolar AS.
Pendorong Kinerja Keuangan
Kenaikan kinerja keuangan ini didorong oleh peningkatan volume produksi dan penjualan batu bara, serta penguatan harga jual rata-rata. Meskipun ada kenaikan beban operasional dan penurunan pendapatan dari segmen emas, kontribusi dari entitas usaha patungan juga memberikan dampak positif.
Diversifikasi ke Sektor Mineral
Selain mengelola sumber daya batu bara yang mencapai 9,3 miliar ton melalui PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Arutmin Indonesia, dan PT Pendopo Energi Batubara (PEB), BUMI terus melakukan diversifikasi ke sektor mineral non-batu bara. Ekspansi ini dilakukan melalui anak usahanya, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), serta penyelesaian akuisisi 100 persen saham Loyal Metals senilai 79,07 juta dolar Australia. Langkah ini bertujuan untuk memperluas aset BUMI dalam komoditas tembaga, emas, dan litium di Australia, guna mengurangi ketergantungan pendapatan dari sektor batu bara.
Phintraco Sekuritas memprediksi bahwa tren pertumbuhan BUMI akan terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan. Pendapatan diproyeksikan tumbuh 13,4 persen YoY menjadi 1,62 miliar dolar AS pada FY26F, dan meningkat menjadi 2,32 miliar dolar AS pada FY28F. Laba bersih juga diperkirakan akan naik dari 113,4 juta dolar AS pada FY26F menjadi 187,7 juta dolar AS pada FY28F, dengan margin laba bersih yang menguat dari 7,0 persen menjadi 8,1 persen. Target operasional untuk volume penjualan batu bara ditetapkan pada rentang 82 juta hingga 84 juta ton untuk tahun 2026.
"Pengembangan aset mineral dan target penjualan batu bara sebesar 82–84 juta ton pada tahun 2026 diharapkan dapat semakin mendorong pertumbuhan pendapatan serta memperkuat ketahanan bisnis jangka panjang BUMI," tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.
Namun, Phintraco Sekuritas juga mencatat beberapa tantangan yang mungkin memengaruhi kinerja BUMI, termasuk penurunan permintaan batu bara global, dinamika geopolitik yang dapat meningkatkan biaya bahan bakar, serta penyesuaian regulasi terkait kuota produksi pertambangan (RKAB) dan kebijakan ekspor.
Pada perdagangan Jumat (23/10/2026), saham BUMI ditutup menguat sebesar 0,72 persen atau naik Rp1,00 ke level Rp140 per lembar saham. Saham tersebut dibuka di posisi Rp139 dan bergerak dalam rentang harga Rp138 hingga Rp143 sepanjang hari perdagangan.